Total Tayangan Halaman

Sabtu, 31 Januari 2009

NIAT

pentingnya niat

Islam adalah agama yang tidak pernah mengajarkan adanya pekerjaan sia-sia, sehingga tidak satu pekerjaan pun yang boleh dilakukan setengah hati. Setiap pekerjaan harus diselesaikan secara serius dengan metodologi dan orientasi yang jelas. Dalam Islam, semua kerja/amal memiliki nilai dan akan dicatat sebagi ibadah dihadapan Allah.
Karena itu tidak ada pekerjaan yang dilakukan tanpa niat dan perencanaan yang jelas. Niat dalam khazanah ilmu fiqih disebut sebagai pemicu ruh dan inti ibadah. Niat menjadi tolok ukur diterima tidaknya ibadah seorang hamba. Rosulullah saw. bersabda: “ Sesungguhnya nilai setiap pekerjaan tergantung pada niat yang mendahuluinya”. (HR. Bukhori). Suatu amal yang tidak didasari niat yang benar dianggap tidak bernilai. Sebab terdapat dua kemungkinan bagi seseorang yang mengerjakan suatu perbuatan. Pertama, ada orang yang mengerjakan perbuatan tanpa tujuan, tanpa aturan sebagaimana layaknya robot atau mesin. Kedua, ada yang melakukan suatu perbuatan dengan penuh kesadaran dan memiliki tujuan yang jelas. Niatlah yang akan mengantarkan seseorang agar memasuki kelompok kedua.
Seorang ulama Sayyid al-Barwajradi menyatakan bahwa niat tidak cukup kalau hanya dijadikan sebagai motivasi dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah semata, tetapi lebih jauh ia harus disertai dengan kesadaran akan makna yang terkandung dalam niat itu sendiri. Hal itu berarti niat tidak hanya berada di dalam hati dan terucap di saat kita sedang memulai pekerjaan lalu ditengah bekerja niat berubah atau bahkan dilupakan, tetapi niat harus tetap mengawal dan sekaligus menjadi kontrol berjalannya setiap pekerjaan. Karenanya, meletakkan niat diawal setiap pekerjaan bertujuan agar niat dapat mendampingi si pelaku sejak awal hingga akhir dari suatu pekerjaan.
Begitu tingginya posisi niat pada setiap pekerjaan, maka dalam ibadah shalatpun niat menjdi rukun yang tanpanya shalat tidak sah. Lebih jauh kewajiban berniat telah terdapat pada wudlu’, dimana ia menjadi rukun pertama pelaksanaan wudlu’. Wudlu’ yang dikerjakan harus diawali dengan niat yang bersih dan sempurna, dan hal tersebut akan berimplikasi pada pelaksanaan shalat yang kurang sempurna. Niat dalam wudlu harus terintegrasi sejak awal selanjutnya ketika membersihkan sejumlah anggota badan mulai dari membasuh wajah, hingga mencuci kedua kaki. Hal tersebut karena wudlu yang sempurna diyakini akan melahirkan shalat yang sempurna dan kesempurnaannya sangat ditentukan oleh kesungguhan dalam berniat.
Untuk itu pentingnya niat dalam berwudlu’ sebagaimana pentingnya niat di dalam shalat. Niat di dalam shalat berfungsi sebagai ikrar bahwa amal yang dikerjakan akan diselesaikan dengan sepenuh hati, penuh kesadaran, dan kesungguhan,dan tidak lalai di tengah mengerjakannya. Seolah posisi niat dalam shalat dapat dilihat setara dengan perencanaan dalam suatu proyek atau pekerjaan. Seorang yang shalat dan tidak memantapkan niatnya maka ia sama dengan seorang pengusaha yang akan mengemban atau menerima tender suatu proyek namun tidak memiliki perencanaan yang jelas. Atau seorang pejabat yang dilantik tanpa visi dan misi yang jelas.
Pendeknya, niat merupakan kunci dengannya pintu yang menghubungkan seorang hamba dengan Tuhan akan tersingkap sehingga ibadah yang dilakukan dapat diterima sebagai bentuk pengabdian. Disamping itu, niat juga menjadi perjanjian seorang hamba dengan dirinya bahwa ia akan menjaga komitmen dan konsentrasinya selama melaksanakan suatu pekerjaan. Itulah sebabnya niat mensyaratkan ketulusan, keseriusan, dan keikhlasan baik terhadap diri maupun terhadap Allah agar ia dapat menjadi ruh yang menggerakkan dan seorang hamba untuk melaksanakan setiap amalannya dengan sempurna.
Agar niat benar-benar berfungsi sebagai ruhnya ibadah perlu diperhatikan rukun niat sebagai berikut : Pertama, melalui niat, seseorang harus mampu menghadirkan jiwa agar dalam mengerjakan amal penuh dengan kesadaran dan kesungguhan. Hal tersebut karena setiap pekerjaan harus disertai dengan kesengajaan, penuh kesadaran, kesungguhan, bukan karena hanya didasarkan pada kebiasaan. Kedua, niat harus diselimuti dengan keikhlasan. Sebab keikhlasanlah yang akan menjadi fondasi dan penentu orientasi suatu pekerjaan.
Niat itu bersemayam di dalam hati dan bertujuan untuk merealisasikan perintah Allah dengan mengabdikan diri kepada-Nya tanpa ada perubahan atau penyimpangan, maka kita pun harus shalat sebagaimana Rasulullah saw. shalat.
Memang sepatutnya untuk menjadikan niat semata-mata ikhlas karena Allah tanpa diliputi kepalsuan apapun, perlu memahami apa hakikat niat tersebut dan bagaimana cara meletakkannya dalam setiap amal perbuatan yang kita lakukan. Adalah sudah jelas bahwa setiap amalan harus dimulai dengan niat.
Dalam kaitannya dengan kehidupan sehari-hari pentingnya niat merupakan isyarat akan urgensi kesucian hati dalam mengawali setiap pekerjaan. Memulai pekerjaan dengan hati yang kotor tentu berpengaruh pada semangat dan motivasi kerja yang kita miliki. Jika suatu pekerjaan diawali denga hati yang kurang bersih, maka hati akan mudah disisipi oleh bisikan-bisikan setan yang pada akhirnya mengganggu konsentrasi selama pelaksanaan pekerjaan. Karenanya niat atau kesucian hati harus ditanamkan sejak berangkat dari rumah hingga ke tempat kerja. Menanamkan niat yang benar harus dimulai sejak berada di dalam rumah, sebab niat inilah yang akan mengawal semua pekerjaan yang akan dilaksanakan di luar rumah. Apabila niat yang dibangun ketika di rumah benar, maka apapun yang dilaksanakan selama di luar rumah akan menjadi benar. Sebab niat bukan hanya membangun komitmen pada saat diucapkan, tetapi lebih jauh ia harus tetap membahan dalam hati dan menjadi tolok ukur pelaksanaan dan hasil suatu pekerjaan.
Niat mengandung perencanaan vertikal tujuan penghambaan dan konsentrasi horizontal. Hal ini menjadi suatu isyarat bahwa perencanaan tidaklah hanya dilandaskan pada perhitungan material saja, tetapi kepada nilai-nilai spiritual.perencanaan adalah pengomunikasian proses dan tujuan baik secara fisik maupun rohani secara vertikal kepada Allah dan kepada sesama. Komunikasi dengan Allah bertujuan agar setiap amal terhindar dari kemurkaan Allah dan ditempatkan sebagai perwujudan ibadah atau penghambaan. Sementara komunikasi dengan sesama bertujuan agar setiap amal dapat berorientasi ukhuwah dan kemaslahatan. Belajar dari hal ini hendaknya perencanaan memiliki dua arah melihat pertimbangan ketuhanan bahwa setiap kerja adalah ibadah dan karenanya persiapan dan pelaksanaannya adalah sebagai ibadah, dan untuk itu memiliki sejumlah aturan dan syarat yang kesemuanya dapat dirujuk pada aturan syar’i. Selanjutnya perencanaan horizontal bahwa setiap pekerjaan adalah untuk meningkatkan kemaslahatan, karenanya pelaksanaan dan aktualisasinya adalah untuk kemaslahatan bersama.

Sumber : Shalat Yang Benar : Jefry Noer

Tidak ada komentar:

Posting Komentar