PENDAHULUAN
Para Periset saat ini sebagian besar hanya berorientasi
pada keingintahuan terhadap persoalan tidak beroreantasi pada kebutuhan
pengguna, sehingga terkesan hasil riset tidak bisa menjawab persoalan bangsa.
Bangsa Indonesia bercita – cita ingin mewujudkan masyarakat Indonesia yang adil
dan makmur material dan spiritual. Oleh sebab itu kebangkitan rekayasa, rancang
bangun, manufaktur, jaringan produk Industri, dan kekuatan daya cipta perlu
dikembangkan untuk entrepreneurship dalam menghadapi persaingan global.
Sehingga pada periode ke depan, dapat diciptakan Republik Indonesia sebagai Negara Industri
Maju dan Bangsa Niaga Tangguh yang makmur dalam keadilan dan adil
dalam kemakmuran, melalui :
a. Produk manufaktur
dan jasa yang berkualitas unggul dan menang bersaing dengan produk negara –
negara di kawasan Asia maupun Regional.
b. Pengolahan hasil
sumber daya alam dengan produk olahan bermutu terjamin secara lestari dan
berkemampuan ekspor.
c.
Industri nasional berbasis tradisi dan budaya bangsa
dapat tumbuh berkembang kembali melalui produk berkualitas tinggi yang dicintai
dan digunakan dalam kehidupan sehari-hari sebagai “life style”
Hal ini dapat diraih
apabila ada peran penting dari para periset dan para akademisi untuk
mengembangkan risetnya yang dikembangkan kearah teknologi.
PEMBAHASAN
1.
PERANAN RISET
Rendahnya
peran riset yang dikembangkan kearah teknologi terhadap
pembangunan perekonomian nasional sering dikaitkan dengan alokasi anggaran
Negara yang kecil dalam mendukung kegiatan riset. Walaupun faktanya memang
alokasi anggaran tersebut masih rendah, tetapi rendahnya kontribusi teknologi
juga disebabkan karena ketidakpaduan antara teknologi yang dikembangkan dengan
kebutuhan dan problem yang dihadapi publik dan para pengguna teknologi. Hasil
riset atau teknologi domestik yang diadopsi oleh pengguna untuk menghasilkan
barang/jasa yang dibutuhkan masyarakat masih sangat rendah.
Saat
ini kegiatan para periset dan akademisi lebih banyak dilakukan hanya pada
tataran untuk memuaskan rasa keingintahuan dan belum secara cermat dirancang
untuk menghasilkan solusi teknologi bagi berbagai permasalahan nasional.
Sepatutnya
riset untuk pengembangan ilmu pengetahuan tak harus secara dikotomis dengan
riset untuk menyediakan solusi bagi persoalan nyata. Sebaliknya, Ilmu
pengetahuan yang berhasil dikembangkan dapat dijadikan modal dasar untuk mengkreasi
teknologi yang tepat sebagai solusi bagi persoalan nyata yang dihadapi para enterprenuer. Hal
ini bermakna bahwa riset akademik (walaupu hasilnya belum berupa solusi
persoalan ) tetapi perlu lebih diarahkan untuk menyediakan landasan bagi
pengembangan teknologi yang secara nyata dibutuhkan. Sensitivitas para
akademisi dan periset terhadap persoalan nyata tetap dibutuhkan , terlepas dari
pilihan yang diminatinya. Dunia akademik tak boleh terisolir dari dunia nyata.
Perguruan tinggi dan lembaga riset tak boleh menjadi ‘menara gading ’, karena
persoalan yang dihadapi rakyat dan bangsa pada saat ini sudah terlalu besar
untuk diabaikann oleh semua pihak, terutama oleh komunitas cerdas di perguruan
tinggi dan lembaga riset.
Sudah
waktunya riset yang berorientasi langsung untuk menjawab persoalan nyata juga
mempunyai bobot akademik yang tinggi jika dilakukan sesuai dan konsisten dengan
metodologi riset tepat. Sistem selama
ini yang belum mampu menjadi mesin pengerak
perekonomian antara lain disebabkan oleh keengganan komunitas pengembang ilmu pengetahuan dan teknologi
untuk bergeser.
2.
PERANAN TEKNOLOGI
Kemampuan untuk memanfaatkan hasil riset dari para
pengguna harus setara dengan teknologi yang dikembangkan agar proses pemanfaatannya dapat
berlangsung. Kemampuan untuk
memanfaatkan hasil riset dari para pengguna tersebut
perlu dilihat dari kemampuan teknis, manajerial, finansial, dann sosiokultural. Banyak teknologi
yang dikembangkan dari hasil riset dimasa lalu yang diintroduksikan kepada para pengguna (terutama
pengguna primer) tetapi tidak digunakan dalam proses produksi sebagai akibat dari tidak padunya antara
teknologi yang diintroduksikan dengan kebutuhan dan /atau kapasitas adopsi
pihak pengguna.
Faktor
penyebab kondisi pemanfaatan teknologi sulit dicapai salah satunya adalah
karena teknologi belum berkontribusi secara efektif. Hal ini terutama
disebabkan karena teknologi yang dikembangkan belum selaras dengan kebutuhan
dan persoalan nyata yang dihadapi para penggunanya, atau karena tidak
mempertimbangkan kapasitas adopsi para penggunanya.
Pemanfaatan
teknologi di Indonesia akan tercapai jika seluruh individu rakyat Indonesia
mempunyai akses (secara fisik dan finansial) untuk mendapatkannyadapat
produktif. Jika konsisten dengan ini, maka pembangunan terutama industri harus
lebih berorientasi pada upaya pemenuhan permintaan pasar domestik. Kemandirian
dalam pemenuhan kebutuhan domestic merupakan modal dasar dalam menangkal dampak
krisis global. Keberpihakan pada Pengguna Primer, Teknologi yang dikembangkan perlu
‘lebih bersahabat ’ dan diarahkan untuk memudahkan para pengguna terutama
pengguna primer, misalkan teknologi pertanian diarahkan dan didukung oleh
kebijakan – kebijakan pemerintah untuk para petani, peternak, pembudidaya ikan,
nelayan.
3.
PENINGKATAN PRODUKTIVITAS
Produktivitas dapat digambarkan dalam dua pengertian
yaitu secara teknis dan finansial. Pengertian produktivitas secara teknis adalah
pengefesiensian produksi terutamadalam pemakaian ilmu dan teknologi. Sedangkan
pengertian produktivitas secara finansialadalah pengukuran produktivitas atas
output dan input yang telah dikuantifikasi. Suatu perusahaan industri
merupakan unit proses yang mengolah sumber daya (input) menjadioutput dengan
suatu transformasi tertentu. Dalam proses inilah terjadi penambahan nilai lebih
jika dibandingkan sebelum proses.
Unsur-unsur yang terdapat dalam produktivitas :
a. Efisiensi.
Produktivitas sebagai rasio output/input merupakan ukuran efisiensi
pemakaian sumberdaya(input). Efisiensi merupakan suatu ukuran dalam membandingkan penggunaan masukan (input) yang direncanakan dengan
penggunaan masukan yang sebenarnya terlaksana. Pengertian
efisiensi berorientasi kepada masukan .
b.
Efektivitas.
Efektivitas merupakan suatu ukuran yang memberikan gambaran seberapa
jauh target yang dapat tercapai baik secara kuantitas maupun waktu. Makin besar
presentase target tercapai, makin tinggi tingkat efektivitasnya. Konsep
ini berorientasi pada keluaran. Peningkatan efektivitas belum tentu
dibarengi dengan peningkatan efisiensi dan sebaliknya.
Peranan riset yang dikembangkan untuk teknologi saat ini yang ditampilkan
dalam beberapa Publikasi Ilmiah, Jurnal Ilmiah, Balai Penelitian dan
Pengembangan lebih menonjolkan peningkatan produktivitas terkait dengan
aplikasi teknologi, tetapi tidak secara spesifik memilah antara peningkatan
produktivitas sebagai akibat langsung teknologi dengan akibat input teknologi
lainnya, serta tidak menginformasikan tentang tambahan ongkos produksi
akibat aplikasi teknologi dimaksud.
4.
REORIENTASI SISTEM INOVASI NASIONAL
Masalah
fundanmental yang berkaitan dengan ketidakpaduan antara teknologi yang
dikembangkan dengan kebutuhan pengguna teknologi perlu diselesaikann terlebih
dahulu sebelum langkah-langkah lain diambil, karena solusi yang tepat untuk
masalah ini merupakan ‘faktor kunci keberhasilan ’ pengembangan SINas. Secara
akademik, ada dua alternatif yang bisa ditempuh,yakni dengan pendekata ‘upply-pu
h ’ (mengembangkan teknologi terlebih dahulu, baru kemudian menawarkannya
kepada pengguna) atau ‘demand-driven ’ (memahami terlebih dahulu
kebutuhan pengguna, baru kemudian mengembangkan teknologi yang sesuai).
Pendekatan
upply-pu h yang selama ini secara dominan dilakukan ,secara faktual
terbukti tidak mampu mengalirkan teknologi yang dikembangkan tersebut,sehingga
SINas menjadi mandul dan teknologi tidak mampu memberikan kontribusi yang
berarti terhadap pembangunan nasional. Fakta ini menuntut perlunya dilakukan
reorientasi pendekatan ,yakni menggeser pendekatan dari yang lebih dominan upply-pu
h , menjadi lebih dominan demand-driven .
Pendekatan
demand-driven membutuhka perubahan mendasar dalam prilaku kerja para
akademisi dan periset,termasuk:
a.
reposisi akademisi dan periset yang selama ini
mengambil peran sebagai penentu arah SINas, menjadi pemasok teknologi yang dibutuhkan
pengguna;
b.
Pengguna teknologi perlu diposisikan sebagai
penjuru dalam pengembangan SINas.
Upaya
intensifikansi komunikansi dan interaksi antara pengembang dan pengguna
teknologi mempunyai dua alternatif pilihan ,yakni dengan intervensi dari luar
sistem (external force ) dan menumbuhkan kesadaran saling membutuhkan
dalam internal sistem (internal attraction ). Intervensi dari luar
sistem dapat berupa regulasi yang ‘rigid ’ untuk mendorong agar
komunikansi dan interaksi tersebut terjadi dan dapat pula melalui peran
pro-aktif kelembagaan intermediasi. Pilihan kebijakan yang paling ideal adalah
menumbuhkan hubungan mutualistik pengembang pengguna teknologi yang didukung
oleh regulasi untuk menjamin lingkungan tumbuh kembang SINas yang kondusif dan
dukungan lembaga intermediasi secara profesional dan proporsional.
Ada
tiga aktor utama yang terlibat langsung dalam proses aliran teknologi ini
,yakni pengembang teknologi (periset dan akademisi -A), pengguna teknologi
(primer/sekunder -B) yang sekaligus sebagai pelaku produksi,dan pemerintahan (government
-G) yang melakukan fasilitasi dan regulasi agar hubungan
pengembang-pengguna teknologi dapat lebih intensif dan bersifat mutualistik.
Dinamika interaksi dan ko-evolusi antara tiga aktor utama ini merupakan dasar
dari konsepsi ‘Triple Helix A-B-G ’.
Strategi
yang dapat dipilih untuk meningkatkan kinerja SINas guna meningkatkan
kontribusi teknologi adalah:
a.
Sinkronisasi antara teknologi
yang dikembangkan dengan permasalahan yang dihadapi oleh Pengguna.
b.
Insentif bagi pengguna dengan
memberi rangsangan untuk tumbuh-kembang yang berbasis teknologi nasional dan
sesuai dengan permintaan pasar domestik;
c.
Vitalisasi lembaga intermediasi
untuk percepatan proses adopsi teknologi oleh pengguna dan industri dalam
negeri;dan
d.
Dukungan peranturan
perundang-udangan sebagai landasan hukum untuk
memfasilitasi, menstimulasi, dan mengakselerasi interaksi antar aktor
SINas dan kelembagaan pendukung lainnya.
PENUTUP
Berdasarkan persoalan pokok yang
dihadapi dan dikaitkan dengan peranan
Riset untuk enterpreuershif dalam menghadapi persaingan global harus sesuai
dengan tingkat kebutuhan pengguna baik primer maupun sekunder. Dengan
menentukan tingkat skala prioritas dan teknik pemanfaat teknologi, adalah mendorong
agar kegiatan riset untuk menghasilkan teknologi menjadi arus utama riset
nasional, sehingga diharapkan mampu menghasilkan teknologi yang sesuai
kebutuhan dan /atau mampu menjadi solusi bagi permasalahan yang dihadapi dalam
upaya mewujudkan masayarakat yang sejahtera.
DAFTAR PUSTAKA
Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pertanian .2008. Kontribusi
Teknologi Deptan ,Jakarta
Herman Rahadian Soetisna, “Pengukuran Produktivitas”, Laboratorium
PSK&E TI-ITB, Bandung
Kolom KADIN Riset “Kebutuhan Teknologi dan
Potensi Kerjasama Riset dengan Industri” 2010.
Lakita ,B.2009.Reorientasi Sistem Inovasi Nasional
Indonesia:kebijakan ,strategi,dan upaya.
Orasinilmiah Dies Natalis ke 46
Universitas Negeri Gorontalo.Gorontalo,2 September 2009.
Vincent Gaspersz, Manajemen Produktivitas Total, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2000.


