Total Tayangan Halaman

Selasa, 19 Juni 2012

PELATIHAN AMT IKM DI KAB PONOROGO TENTANG PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI




"PELATIHAN ACHIEVMENT MOTIVATION TRAINING ( AMT ) IKM DI KABUPATEN PONOROGO Jawa Timur.Pelatihan ACHIEVMENT MOTIVATION TRAINING ( AMT ) ini memotivasi para pelaku Industri Kecil dan Menengah di kabupaten ponorogo untuk selalu aktif,kreatif, bekerja sama dan berinovasi dalam mengikuti perkembangan jaman ( Globalisasi )terutama perkembangan TEKNOLOGI INFORMASI. saya memberikan materi tentang pemanfaatan Teknologi Informasi untuk strategi pemasaran produk yang dihasilka oleh Pelaku usaha Industri Kecil dan Menengah di Kabupaten Ponorogo. karena selama ini para pelaku IKM di kabupaten Ponorogo sistem pemasranny  "manual" secara langsung ditawarkan ke pasar atau konsumen sehingga sangat terbatas di sekitar lokasi industrinya.pemanfaatan Teknologi Informasi yang saya sampaikan dalam kegiatan itu adalah memanfaatkan Media Sosial untuk memasarkan produknya antara lain  Facebook dan BBM, karena Media Sosialitu telah familiar dengan mere ka.kegiatan pelatihan ini dilaksanan selama 2 hari,yang di ikuti oleh 36 orang pelaku IKM di Kabupaten Ponorogo. Dampak perubahan yang di hasilkan dari pelatihan PELATIHAN ACHIEVMENT MOTIVATION TRAINING ( AMT ) IKM DI KABUPATEN PONOROGO adalah meningkatnya kemauan para pelaku IKM di Kabupaten Ponorogo untuk belajar dan mempelajari aplikasi - aplikasi  yang di sediakan oleh handphone saat ini dan meningkatnya kemampuan para pelaku IKM di Kabupaten Ponorogo memanfaatkan aplikasi - aplikasi itu  untuk memasarkan produknya sehingga produknya semakin banyak di kenal pasar bukan hanya di Kabupaten Ponorogo tapi bisa meluas se Indonesia bahkan dunia.pemanfaatan alat komunikasi atau handphone yang sekarang ini sangat banyak aplikasi yang di sediakan, ada facebook,BBM WHATSAPP, LINECHAT dan lain - lain. tetapi mereka hanya memanfaatkannya sebagai sarana komunikasi saja. Mereka juga dapat memanfaatkan  e-mail yang mereka buat guna mengirim dan menerima informasi dari pasar atau konsumen. Dari aspek sosial tumbuh kerja sama atau komunikasi yang baik di antara para pelaku IKM Kabupaten Ponorogo dengan membuat group IKM Ponorogo, mereka selalu berkomunikasi setiap ada permasalahan - permasalahan yang timbul dalam kegiatan produksinya diantaranya saling membantu apabila ada kekurangan bahan baku atau stock produk bahkan sampai ke sistem pemasarannya.

Sabtu, 19 Mei 2012

Foto
Bersama Para Dosen FMIPA dan Juri
dengan para juara Olimpiade Matematika SD, SLTP, SLTA Sederajat
 se Jawa Timur tahun 2012

Senin, 30 April 2012

jurnal teknik sistem informasi

DAMPAK PERKEMBANGAN TEKNOLOGI INFORMASI DI INDONOESIA
Oleh : Sujarwo,S.T
Dosen Fakultas Teknik Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum Jombang

I. Pendahuluan
Teknologi berkembang berakar pada kebudayaan lingkungan penciptanya. Teknologi dikembangkan sesuai dengan kebutuhan lingkungan, entah kebutuhan yang sunguh – sungguh ( Real ) atau kebutuhan yang dikira ( Perceived ). Bentuk dan penggunan serta perkembangannya ditentukan oleh kreativitas, pandangan, dan nilai budaya dari lingkungan tersebut.
Akibat perbedaan lingkungan pengguna teknologi dengan nilai dan wawasan budaya masyarakat luas, penerapan teknologi memerlukan perubahan budaya. Segi budaya yang dimaksud disesuaikan dengan tuntutan budaya para teknolog, dengan demikian mau tidak mau membawa dampak bagi masyarakat termasuk Teknologi Informasi. Adapun dampak tersebut meliputi aspek estetika, organisasional, dan cultural.
Perkembangan Teknologi Informasi mencakup semua aspek budaya yang lebih luas, yaitu :
1. Aspek Teknis
Dampak dari perkembangan Teknologi Informasi terhadap sumber daya manusia. Pada aspek teknis ini perkembangan Teknologi Informasi memerlukan kemahiran ( keahlian ), pengetahuan, dan kemampuan dari pengguna. Maka dari itu tergantung seberapa besar kemauan dan kemampuan mengikuti pengguna untuk mengikuti perkembangan Teknologi Informasi.
2. Aspek Etika
Dampak yang menyangkut privasi dan kerahasiaan pembicaraan seseorang. Pada konsep ini mungkin akan mempengaruhi tingkat budaya komunikasi pada masyarakat – masyarakat tertentu,yang biasa harus bertatap muka ( empat mata ).
3. Aspek Organisasianal.
Pada aspek ini mempunyai potensi dampak social yang sangat besar, sehingga perlu adanya pengorganisasian untuk pemanfaatan teknologi informasi yang sebenarnya.
4. Aspek Kultural
Aspek ini mempunyai potensi pada dampak perubahan budaya, komunikasi, nilai – nilai social, sikap dan pengembangan pengetahuan serta wawasan. Dengan perkembangan itu akan mempengaruhi tingkatan struktur ekonomi dan tingkatan masyarakat.
Dari semua aspek diatas, merupakan implikasi dari perkembangan Teknologi Informasi secara garis besar saja. Bila kita ingin mencari jawaban yang lebih spesifik dampak perkembangan teknologi Informasi bagi masyarakat Indonesia, kita tidak akan menemukan jawaban yang mudah, karena pengkajian mengenai dampak perkembangan Teknologi Informasi memang jarang dilakukan, juga diluar negeri. Menurut beberapa study mengenai dampak yang khas terhadap perkembangan Teknologi Informasi di Indonesia hampir tidak ada. Dengan demikian dapat diambil kesimpulan bahwa pengamatan yang diambil bertitik tolak pada pengamatan kualitatif.

II. Dampak yang Nyata
Adapun dampak yang nyata atas perkembangan Teknologi Informasi di Indonesia adalah :
a. Dampak Personal
Beberapa jenis dampak Teknologi Informasi yang mempengaruhi masyarakat Indonesia, antara lain :
1. Dampak secara langsung yaitu dampak yang langsung dirasakan karena pemakaian secara fisik.
2. dampak yang tidak langsung yaitu dampak yang mendorong perkembangan secara umum suatu masyarakat karena kehadiran sarana Informasi Teknologi.
3. Dampak lain yang bersifat mikro yaitu dampak yang mempengaruhi kehidupan perorangan, keluarga, atau kelompok.
Ciri suatu teknologi mungkin akan menyebabkan dampak yang berbeda dari yang lainnya. Contoh dampak adanya telegrafi berbeda dengan dampak adanya telepon,. Telegrafi biaya mahal, ringkas, cara penyampaian khusus dan bersifat public sedangkan telepon bisa langsung berbicara dengan individu yang dituju, tidak semua orang akan mengetahui kapan seseorang itu menerima kabar penting atau tidak. Disini dapat diketahui bahwa antar media telekomunikasi mempunyai dampak yang berbeda satu sama yang lain. Masyarakat tradisional mungkin mengikuti tradisi wicara melalui telepon, dan alat – alat telekomunikasi lainnya. Sedangkan untuk tradisi tertulis lebih cocok dengan masyarakat yang mempunyai tradisi membaca, masyarkat Negara maju tentunya.
Ada beberapa macam sifat social dari teknologi yang diketahui antara lain menyangkut pertanyaan ; Apakah Teknologi itu bersifat personal ( menghargai harkat dan jati diri komunikasi yang memungkinkan pengenalan pribadi lawan bicara kita ) atau Impersonal ( tidak perlu mengenal satu – sama lain namun bias saling berhubungan atau perubahan budaya social yang penting isi pesan apa yang mau disampaikan ).

b. Dampak Sosial Budaya
Sarana penyampaian informasi apapun bentuknya telah membawa dampak dan perubahan yang berarti pada kehidupan social budaya bagi masyarakat. Ini terlihat dalam kehidupan masyarakat perkotaan terutama lapisan tertentu. Hubungan tatap muka telah mulai diganti dengan system informasi termasuk didalamnya teknik pembelajaran, pengajar tidak perlu bertatap muka secara langsung dengan anak didiknya tapi bias melalui system informasi. Masih banyak lagi yang menggunakan system tersebut untuk banyak kegiatan dan pekerjaan. Segi positif dari teknologi informasi ini adalah segi efisiensi dan membuka hubungan baru dengan pihak manapun yang kita tuju. Sedangkan sisi negatifnya adanya pemanfaatan Teknologi Informasi untuk kejahatan.
Dalam budaya telekomunikasi atau pemanfaatan teknologi informasi baru – baru ini, terbuka akses yang diartikan bahwa orang dengan bebas dapat berbicara, menanyakan banyak hal, mendapatkan banyak informasi yang diinginkannya dan masih banyak lagi hal – hal seseorang bisa mengaksesnya. Dampak dari Teknologi Informasi ini adalah dapat memperlemah atau menembus dinding lapisan social ( Stratifikasi ) secara langsung atau tidak. Disamping itu juga dapat menghapuskan symbol – symbol social yang bersifat fisik yang dapat terlihat apabila harus bertatap muka, seperti penampilan, pakaian, tanda pangkat, atribut perkantoran, besarnya badan, atau keangkeran wajah bahkan sampai kondisi disekitarnya.
Teknologi Informasi telah menciptakan aturan baru yang berbeda dari aturan hubungan tatap muka, dimana pembicara lebih berani berbicara dan mengemukakan pendapat, apalagi bila ia tidak mengenal siapa lawan bicaranya.
Dampak penting yang diamati dari perkembangan Teknologi Informasi adalah meningkatknya kesadaran untuk lebih mudah mendapatkan informasi. Masyarakat makin ingin tahu segera tentang fakta – fakta atau peristiwa – peristiwa apa yang terjadi di Indonesia bahkan diseluruh Dunia. Misal melalui: Internet, Televisi, dan media – media lainnya. Ini menunjukan bahwa dunia informasi semakin merajai dunia. Bahkan ada yang mengatakan “Siapa yang menguasai Teknologi Informasi, Dia akan dapat menguasai Dunia” begitu hebatnya peranan Teknologi Informasi dewasa ini.

c. Potensi Dampak Makro
Dampak makro teknologi Informasi yang paling banyak disorot adalah menyangkut pembangunan ekonomi. Dampak yang dimaksud disini hanya menyangkut beberapa hal makro yang potensial. Salah satu dampak Teknologi Informasi yang potensial adalah perannya dalam menentukan struktur masyarakat. Pembangunan jaringan sebenarnya dapat ikut menentukan struktur masyarakat, karena dapat mengatasi masalah social dan geografis yang selama ini sering mempersulit penataan wilayah diberbagai Negara termasuk Indonesia. Dalam hal ini maka Teknologi Informasi adalah Instrumen social yang dapat berperan untuk mengorganisasi masyarakat.
Dampak makro yang lain, menyangkut pemerataan pembangunan. Kesenjangan ekonomi sering terkait dengan kesenjangan informasi dan komunikasi.Jika akses informasi terbuka luas, kalangan ekonomi akan lebih mudah untuk mendapatkan informasi yang relevan dan dapat memperluas hubungan secara efisien. Salah satu contohnya : Informasi untuk mendapatkan peluang – peluang usaha dan mengembangkan usaha yang sudah ada. Dampak ini akan lebih dipercepat jika pengembangan teknologi informasi memberi prioritas yang cukup pada masyarakat pedesaan. Di Indonesia para pengambil keputusan selalu menghadapi pilihan mengenai konsumen mana yang harus dilayani terlebih dahulu karena berkaitan dengan mahalnya investasi sarana informasi. Sehingga sering diarahkan ke wilayah yang dapat menyerap biaya secara ekonomis.
Dampak makro sulitnya menambah jaringan informasi ke wilayah yang lebih luas ini rupanya umum terjadi dimana – mana. Karena itu dampak negative dan ketimpangan informasi dapat menjadi lebih besar lagi.

III. Penutup
Secara ringkas keterangan diatas memperlihatkan bahwa teknologi informasi membawa banyak dampak terhadap kehidupan masyarakat, khususnya Indonesia. Namun gambaran yang diperoleh masih jauh dari lengkap, karena kurangnya data dan penelitian mengenai hal tersebut. Padahal studi dampak akan banyak berguna dalam merencanakan pengembangan teknologi informasi, sehingga benar – benar mendukung untuk mencapai tujuan nasional.
Akhirnya baik juga untuk diingat, bahwa bagaimanapun pengaruh teknologi informasi, dampak keseluruhannnya akan tergantung pada kualitas system dan luas penetrasinya dalam menghubungkan seluruh wilayah tanah air Indonesia secara merata.

Jumat, 13 April 2012


-->
PEMANFAATAN TEKNOLOGI DAN RISET GUNA PENCAPAIAN KEBUTUHAN MASYARAKAT INDONESIA

PENDAHULUAN
Teknologi hanya akan memberikan kontribusi jika ia digunakan dalam proses produksi barang/jasa untuk meningkatkan kualitas hidup umat manusia. Untuk dapat digunakan, teknologi harus dikembangkan dengan mengenali terlebih dahulu pengguna potensialnya. Dalam konteks upaya pencapaian ini ada pengguna primer dan pengguna sekunder. Pengguna primer adalah pengguna yang langsung memamfaatkan teknologi untuk menghasilkan produk barang/jasa, sedang Pengguna sekundernya adalah pengguna yang tidak langsung/ pendukung dari pengguna primer. Kebutuhann dan persoalan nyata yang dihadapi oleh para pengguna perlu dipahami secara komprehensif terlebih dahulu, agar solusi teknologi yang ditawarkan diminati oleh para pengguna.
Saat ini kegiatan para periset dan akademisi lebih banyak dilakukan hanya pada tataran untuk memuaskan rasa keingintahuan dan belum secara cermat dirancang untuk menghasilkan solusi teknologi bagi berbagai permasalahan nasional.

Kata kunci : Teknologi, Riset

PEMANFAATAN TEKNOLOGI
Kapasitas adopsi para pengguna teknologi  harus setara dengan teknologi yang dikembangkan agar proses adopsi dapat berlangsung. Kapasitas adopsi pengguna tersebut perlu dilihat dari kemampua teknis, manajerial, finansial, dann sosiokultural. Banyak teknologi pertanian /pangan di masa lalu yang diintroduksikan kepada para pengguna (terutama pengguna primer) tetapi tidak digunakan dalam proses produksi  sebagai akibat dari tidak padunya antara teknologi yang diintroduksikan dengan kebutuhan dan /atau kapasitas adopsi pihak pengguna.
Faktor penyebab kondisi pemanfaatan teknologi sulit dicapai salah satunya adalah karena teknologi belum berkontribusi secara efektif. Hal ini terutama disebabkan karena teknologi yang dikembangkan belum selaras dengan kebutuhan dan persoalan nyata yang dihadapi para penggunanya, atau karena tidak mempertimbangkan kapasitas adopsi para penggunanya.
Pemanfaatan teknologi di Indonesia akan tercapai jika seluruh individu rakyat Indonesia mempunyai akses (secara fisik dan finansial) untuk mendapatkannyadapat produktif. Jika konsisten dengan ini, maka pembangunan terutama industri harus lebih berorientasi pada upaya pemenuhan permintaan pasar domestik. Kemandirian dalam pemenuhan kebutuhan domestic merupakan modal dasar dalam menangkal dampak krisis global. Keberpihakan pada Pengguna Primer, Teknologi yang dikembangkan perlu ‘lebih bersahabat ’ dan diarahkan untuk memudahkan para pengguna terutama pengguna primer, misalkan teknologi pertanian diarahkan dan didukung oleh kebijakan – kebijakan pemerintah untuk para petani, peternak, pembudidaya ikan, nelayan.

KONTRIBUSI TEKNOLOGI SAAT INI
Kontribusi teknologi yang ditampilkan dalam publikansi beberapa Balitbang lebih menonjolkan peningkatan produksi/produktivitas terkait dengan aplikasi teknologi, tetapi tidak secara spesifik memilah antara peningkatan produksi /produktivitas sebagai akibat langsung teknologi dengan akibat input teknologi lainnya, serta tidak menginformasikan tentang tambahan ongkos produksi akibat  aplikasi  teknologi dimaksud.
Salah satu pendekatan yang digunakan untuk estimasi kontribusi teknologi terhadap peningkatan produktivitas, adalah dengan menghitung Total Factor Productivity (TFP). Pada prinsipnya, TFP merupakan variabel untuk mengukur dampak terhadap keluaran (output )total yang tidak disebabkan oleh tangible input ,yakni capital input dan labor input yang terpakai dalam proses produksi. TFP menaksir dampak dan riintangible input , termasuk kontribusi teknologi walaupun  tidak terbatas hanya oleh teknologi.
Maknanya, jika nilai TFP negatif berarti peningkatan inputs tak sebanding dengan peningkatan outputs, selain kontribusi teknologi tidak terdeteksi juga proses produksi berlangsung secara kurang efisien.

MENGGESER ORIENTASI RISET
Rendahnya kontribusi teknologi terhadap pembangunan perekonomian nasional (sebagaimana tercermin dari nilai Total Factor Productivity ) sering dikaitkan dengan alokasi anggaran Negara yang kecil dalam mendukung kegiatan riset. Walaupun faktanya memang alokasi anggaran tersebut masih rendah, tetapi rendahnya kontribusi teknologi juga disebabkan karena ketidakpaduan antara teknologi yang dikembangkan dengan kebutuhan dan problem yang dihadapi publik dan para pengguna teknologi. Hasil riset atau teknologi domestik yang diadopsi oleh pengguna untuk menghasilkan barang/jasa yang dibutuhkan masyarakat masih sangat rendah.
Saat ini kegiatan para periset dan akademisi lebih banyak dilakukan hanya pada tataran untuk memuaskan rasa keingin -tahuan dan belum secara cermat dirancang untuk menghasilkan solusi teknologi bagi berbagai permasalahan nasional.
Sepatutnya riset untuk pengembangan ilmu pengetahuan tak harus secara dikotomis dipisahkan dengan riset untuk menyediakan solusi bagi persoalan nyata. Sebaliknya, riset ini perlu diposisikann pada alur yang sama. Ilmu pengetahuan yang berhasil dikembangkan dapat dijadikan modal dasar untuk mengkreasi teknologi yang tepat sebagai solusi bagi persoalan nyata yang dihadapi. Hal ini bermakna bahwa riset akademik (walaupu hasilnya belum berupa solusi persoalan ) tetapi perlu lebih diarahkan untuk menyediakan landasan bagi pengembangan teknologi yang secara nyata dibutuhkan. Sensitivitas para akademisi dan periset terhadap persoalan nyata tetap dibutuhkan , terlepas dari pilihan yang diminatinya. Dunia akademik tak boleh terisolir dari dunia nyata. Perguruan tinggi dan lembaga riset tak boleh menjadi ‘menara gading ’, karena persoalan yang dihadapi rakyat dan bangsa pada saat ini sudah terlalu besar untuk diabaikann oleh semua pihak, terutama oleh komunitas cerdas di perguruan tinggi dan lembaga riset.
Sudah waktunya riset yang berorientasi langsung untuk menjawab persoalan nyata juga mempunyai bobot akademik yang tinggi jika dilakukan sesuai dan konsisten dengan metodologi riset tepat. Bobot akademik lebih ditentukan oleh bagaimana riset dilakukan bukan oleh jenis keluaran yang dihasilkan.
Sistem Inovasi Nasional (SINas) yang belum mampu menjadi mesin pengerak perekonomian antara lain disebabkan oleh keengganan komunitas pengembang ilmu pe getahuan dan teknologi untuk bergeser.

REORIENTASI SISTEM INOVASI NASIONAL
Masalah fundanmental yang berkaitan dengan ketidakpaduan antara teknologi yang dikembangkan dengan kebutuhan pengguna teknologi perlu diselesaikann terlebih dahulu sebelum langkah-langkah lain diambil, karena solusi yang tepat untuk masalah ini merupakan ‘faktor kunci keberhasilan ’ pengembangan SINas. Secara akademik, ada dua alternatif yang bisa ditempuh,yakni dengan pendekata ‘upply-pu h ’ (mengembangkan teknologi terlebih dahulu, baru kemudian menawarkannya kepada pengguna) atau ‘demand-driven ’ (memahami terlebih dahulu kebutuhan pengguna, baru kemudian mengembangkan teknologi yang sesuai).
Pendekatan upply-pu h yang selama ini secara dominan dilakukan ,secara faktual terbukti tidak mampu mengalirkan teknologi yang dikembangkan tersebut,sehingga SINas menjadi mandul dan teknologi tidak mampu memberikan kontribusi yang berarti terhadap pembangunan nasional. Fakta ini menuntut perlunya dilakukan reorientasi pendekatan ,yakni menggeser pendekatan dari yang lebih dominan upply-pu h , menjadi lebih dominan demand-driven .
Pendekatan demand-driven membutuhka perubahan mendasar dalam prilaku kerja para akademisi dan periset,termasuk:
[1 ] reposisi akademisi dan periset yang selama ini mengambil perann sebagai penentu arah SINas, menjadi pemasok teknologi yang dibutuhkan pengguna;
[2 ] Pengguna teknologi perlu diposisikan sebagai penjuru dalam pengembangan  SINas.

Upaya intensifikansi komunikansi dan interaksi antara pengembang dan pengguna teknologi mempunyai dua alternatif pilihan ,yakni dengan intervensi dari luar sistem (external force ) dan menumbuhkan kesadaran saling membutuhkan dalam internal sistem (internal attraction ). Intervensi dari luar sistem dapat berupa regulasi yang ‘rigid ’ untuk mendorong agar komunikansi dan interaksi tersebut terjadi dan dapat pula melalui peran pro-aktif kelembagaan intermediasi. Pilihan kebijakan yang paling ideal adalah menumbuhkan hubungan mutualistik pengembang pengguna teknologi yang didukung oleh regulasi untuk menjamin lingkungan tumbuh kembang SINas yang kondusif dan dukungan lembaga intermediasi secara profesional dan proporsional.
Ada tiga aktor utama yang terlibat langsung dalam proses aliran teknologi ini ,yakni pengembang teknologi (periset dan akademisi -A), pengguna teknologi (primer/sekunder -B) yang sekaligus sebagai pelaku produksi,dan pemerintahan (government -G) yang melakukan fasilitasi dan regulasi agar hubungan pengembang-pengguna teknologi dapat lebih intensif dan bersifat mutualistik. Dinamika interaksi dan ko-evolusi antara tiga aktor utama ini merupakan dasar dari konsepsi ‘Triple Helix A-B-G ’.
Strategi yang dapat dipilih untuk meningkatkan kinerja SINas guna meningkatkan kontribusi teknologi adalah:
[1 ] Sinkronisasi antara teknologi yang dikembangkan dengan permasalahan yang dihadapi oleh Pengguna.
[2 ] Insentif bagi pengguna dengan memberi rangsangan untuk tumbuh-kembang yang berbasis teknologi nasional dan sesuai dengan permintaan pasar domestik;
[3 ] Vitalisasi lembaga intermediasi untuk percepatan proses adopsi teknologi oleh pengguna dan industri dalam negeri;dan
 [4 ]Dukungan peranturan perundang-udangan sebagai landasan hukum untuk  memfasilitasi, menstimulasi, dan mengakselerasi interaksi antar aktor SINas dan kelembagaan pendukung lainnya.

PENUTUP
Berdasarkan persoalan pokok yang dihadapi dan dikaitkan dengan target dan prioritas nasional yang telah ditetapkan untuk dikembangkan ,maka akan ditetapkan program dan kegiatan prioritas untuk riset melalui ARN ( Agenda riset Nasional ) untuk menentukan skala prioritas dan teknik pemanfaat teknologi, adalah mendorong agar kegiatan riset untuk menghasilkan teknologi menjadi arus utama riset nasional, sehingga diharapkan mampu menghasilkan teknologi yang sesuai kebutuhan dan /atau mampu menjadi solusi bagi permasalahan yang dihadapi dalam upaya mewujudkan masayarakat yang sejahtera.






REFERENSI
Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pertanian .2008.Kontribusi Teknologi
Deptan ,Jakarta.
Lakita ,B.2009.Reorientasi Sistem Inovasi Nasional Indonesia:kebijakan ,strategi,dan upaya.
Orasinilmiah Dies Natalis ke 46 Universitas Negeri Gorontalo.Gorontalo,2 September 2009.

tugas mata kuliah komunikasi interpersonal

buat resume materi kuliah komunikasi interpersonal, dengan ketentuan
1. diketik dengan TAHOMA
2. dicetak dengan kertas A4
3. jarak spasi 1,5

Senin, 12 Maret 2012

Bersama juara Olimpiade Matematika 2012

Minggu, 15 Maret 2009

Pernikahan Dini Rawan Kanker

Setiap wanita beresiko tinggi terkena kanker leher rahim atau serviks tanpa memandang usia maupun gaya hidup. Yayasan Kanker Indonesia (YKI) pun mencatat kasus baru. Sebanyak 40-45 orang per hari terkena kanker. Dengan resiko kematian mencapai separoh lebih. Atau setiap satu jam, seorang wanita meninggal karena mengindap serviks.

Hal itulah yang menjadi topik pembicaraan dalam seminar kesehatan vaksinasi Human Papilloma Virus (HPV) sebagai upaya pencegahan kanker leher rahim di Gedung Bappeda Ponorogo, kemarin (14/3). ''Kanker leher rahim merupakan masalah kesehatan yang tidak hanya mengganggu fisik dan kehidupan seksual saja. Tetapi juga mengganggu psikologis,'' terang dr Arief Prijatna, salah seorang pembicara pada koran ini.

Pernikahan dini salah satu penyebab utama terjadinya kanker leher rahim pada wanita. Pada masa transisi (remaja, Red) rawan akan terjadinya infeksi saat berhubungan suami istri. ''Tidak itu saja, terlalu sering melahirkan, kontrasepsi oral jangka panjang dan kurangnya perawatan kebersihan juga berpeluang terkena serviks,'' ungkapnya.

Sebenarnya, kanker leher rahim sendiri dapat dihindari oleh kaum wanita dengan melakukan pemeriksaan secara rutin untuk deteksi dini. Sebagai upaya pencegahan sekunder. Serta melakukan vaksinasi HPV sebagai upaya pencegahan primer. ''Untuk itu sekarang ini setiap Polindes dan Puskesmas sudah disediakan alat khusus guna mendeteksi serviks,'' paparnya.

Kanker leher rahim dapat disembuhkan asalkan ditemukan pada stadium dini. Kenyataan yang terjadi kasus serviks ditemukan pada stadium lanjut. Sehingga sulit disembuhkan, bahkan berujung pada kematian. ''Untuk menjalankan operasi dalam stadium dini masih bisa dilakukan. Tetapi kalau sudah stadium lanjut sudah rawan akan kematian,'' ungkapnya.

Sementara, ketua panitia seminar tersebut, Listyorini Barunanto mengungkapkan bahwa kaum hawa selama ini cenderung pasif dalam masalah kesehatan. Untuk itu, pihaknya akan merangsang mereka aktif dalam melakukan pemeriksaan di Polindes dan Puskesmas terdekat. ''Sekarang fasilitasnya kan sudah banyak terpenuhi. Jadi setiap wanita harus sering kali menjalankan pemeriksaan kesehatan,'' tambanya.(dip/eba)