Total Tayangan Halaman

Senin, 30 April 2012

jurnal teknik sistem informasi

DAMPAK PERKEMBANGAN TEKNOLOGI INFORMASI DI INDONOESIA
Oleh : Sujarwo,S.T
Dosen Fakultas Teknik Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum Jombang

I. Pendahuluan
Teknologi berkembang berakar pada kebudayaan lingkungan penciptanya. Teknologi dikembangkan sesuai dengan kebutuhan lingkungan, entah kebutuhan yang sunguh – sungguh ( Real ) atau kebutuhan yang dikira ( Perceived ). Bentuk dan penggunan serta perkembangannya ditentukan oleh kreativitas, pandangan, dan nilai budaya dari lingkungan tersebut.
Akibat perbedaan lingkungan pengguna teknologi dengan nilai dan wawasan budaya masyarakat luas, penerapan teknologi memerlukan perubahan budaya. Segi budaya yang dimaksud disesuaikan dengan tuntutan budaya para teknolog, dengan demikian mau tidak mau membawa dampak bagi masyarakat termasuk Teknologi Informasi. Adapun dampak tersebut meliputi aspek estetika, organisasional, dan cultural.
Perkembangan Teknologi Informasi mencakup semua aspek budaya yang lebih luas, yaitu :
1. Aspek Teknis
Dampak dari perkembangan Teknologi Informasi terhadap sumber daya manusia. Pada aspek teknis ini perkembangan Teknologi Informasi memerlukan kemahiran ( keahlian ), pengetahuan, dan kemampuan dari pengguna. Maka dari itu tergantung seberapa besar kemauan dan kemampuan mengikuti pengguna untuk mengikuti perkembangan Teknologi Informasi.
2. Aspek Etika
Dampak yang menyangkut privasi dan kerahasiaan pembicaraan seseorang. Pada konsep ini mungkin akan mempengaruhi tingkat budaya komunikasi pada masyarakat – masyarakat tertentu,yang biasa harus bertatap muka ( empat mata ).
3. Aspek Organisasianal.
Pada aspek ini mempunyai potensi dampak social yang sangat besar, sehingga perlu adanya pengorganisasian untuk pemanfaatan teknologi informasi yang sebenarnya.
4. Aspek Kultural
Aspek ini mempunyai potensi pada dampak perubahan budaya, komunikasi, nilai – nilai social, sikap dan pengembangan pengetahuan serta wawasan. Dengan perkembangan itu akan mempengaruhi tingkatan struktur ekonomi dan tingkatan masyarakat.
Dari semua aspek diatas, merupakan implikasi dari perkembangan Teknologi Informasi secara garis besar saja. Bila kita ingin mencari jawaban yang lebih spesifik dampak perkembangan teknologi Informasi bagi masyarakat Indonesia, kita tidak akan menemukan jawaban yang mudah, karena pengkajian mengenai dampak perkembangan Teknologi Informasi memang jarang dilakukan, juga diluar negeri. Menurut beberapa study mengenai dampak yang khas terhadap perkembangan Teknologi Informasi di Indonesia hampir tidak ada. Dengan demikian dapat diambil kesimpulan bahwa pengamatan yang diambil bertitik tolak pada pengamatan kualitatif.

II. Dampak yang Nyata
Adapun dampak yang nyata atas perkembangan Teknologi Informasi di Indonesia adalah :
a. Dampak Personal
Beberapa jenis dampak Teknologi Informasi yang mempengaruhi masyarakat Indonesia, antara lain :
1. Dampak secara langsung yaitu dampak yang langsung dirasakan karena pemakaian secara fisik.
2. dampak yang tidak langsung yaitu dampak yang mendorong perkembangan secara umum suatu masyarakat karena kehadiran sarana Informasi Teknologi.
3. Dampak lain yang bersifat mikro yaitu dampak yang mempengaruhi kehidupan perorangan, keluarga, atau kelompok.
Ciri suatu teknologi mungkin akan menyebabkan dampak yang berbeda dari yang lainnya. Contoh dampak adanya telegrafi berbeda dengan dampak adanya telepon,. Telegrafi biaya mahal, ringkas, cara penyampaian khusus dan bersifat public sedangkan telepon bisa langsung berbicara dengan individu yang dituju, tidak semua orang akan mengetahui kapan seseorang itu menerima kabar penting atau tidak. Disini dapat diketahui bahwa antar media telekomunikasi mempunyai dampak yang berbeda satu sama yang lain. Masyarakat tradisional mungkin mengikuti tradisi wicara melalui telepon, dan alat – alat telekomunikasi lainnya. Sedangkan untuk tradisi tertulis lebih cocok dengan masyarakat yang mempunyai tradisi membaca, masyarkat Negara maju tentunya.
Ada beberapa macam sifat social dari teknologi yang diketahui antara lain menyangkut pertanyaan ; Apakah Teknologi itu bersifat personal ( menghargai harkat dan jati diri komunikasi yang memungkinkan pengenalan pribadi lawan bicara kita ) atau Impersonal ( tidak perlu mengenal satu – sama lain namun bias saling berhubungan atau perubahan budaya social yang penting isi pesan apa yang mau disampaikan ).

b. Dampak Sosial Budaya
Sarana penyampaian informasi apapun bentuknya telah membawa dampak dan perubahan yang berarti pada kehidupan social budaya bagi masyarakat. Ini terlihat dalam kehidupan masyarakat perkotaan terutama lapisan tertentu. Hubungan tatap muka telah mulai diganti dengan system informasi termasuk didalamnya teknik pembelajaran, pengajar tidak perlu bertatap muka secara langsung dengan anak didiknya tapi bias melalui system informasi. Masih banyak lagi yang menggunakan system tersebut untuk banyak kegiatan dan pekerjaan. Segi positif dari teknologi informasi ini adalah segi efisiensi dan membuka hubungan baru dengan pihak manapun yang kita tuju. Sedangkan sisi negatifnya adanya pemanfaatan Teknologi Informasi untuk kejahatan.
Dalam budaya telekomunikasi atau pemanfaatan teknologi informasi baru – baru ini, terbuka akses yang diartikan bahwa orang dengan bebas dapat berbicara, menanyakan banyak hal, mendapatkan banyak informasi yang diinginkannya dan masih banyak lagi hal – hal seseorang bisa mengaksesnya. Dampak dari Teknologi Informasi ini adalah dapat memperlemah atau menembus dinding lapisan social ( Stratifikasi ) secara langsung atau tidak. Disamping itu juga dapat menghapuskan symbol – symbol social yang bersifat fisik yang dapat terlihat apabila harus bertatap muka, seperti penampilan, pakaian, tanda pangkat, atribut perkantoran, besarnya badan, atau keangkeran wajah bahkan sampai kondisi disekitarnya.
Teknologi Informasi telah menciptakan aturan baru yang berbeda dari aturan hubungan tatap muka, dimana pembicara lebih berani berbicara dan mengemukakan pendapat, apalagi bila ia tidak mengenal siapa lawan bicaranya.
Dampak penting yang diamati dari perkembangan Teknologi Informasi adalah meningkatknya kesadaran untuk lebih mudah mendapatkan informasi. Masyarakat makin ingin tahu segera tentang fakta – fakta atau peristiwa – peristiwa apa yang terjadi di Indonesia bahkan diseluruh Dunia. Misal melalui: Internet, Televisi, dan media – media lainnya. Ini menunjukan bahwa dunia informasi semakin merajai dunia. Bahkan ada yang mengatakan “Siapa yang menguasai Teknologi Informasi, Dia akan dapat menguasai Dunia” begitu hebatnya peranan Teknologi Informasi dewasa ini.

c. Potensi Dampak Makro
Dampak makro teknologi Informasi yang paling banyak disorot adalah menyangkut pembangunan ekonomi. Dampak yang dimaksud disini hanya menyangkut beberapa hal makro yang potensial. Salah satu dampak Teknologi Informasi yang potensial adalah perannya dalam menentukan struktur masyarakat. Pembangunan jaringan sebenarnya dapat ikut menentukan struktur masyarakat, karena dapat mengatasi masalah social dan geografis yang selama ini sering mempersulit penataan wilayah diberbagai Negara termasuk Indonesia. Dalam hal ini maka Teknologi Informasi adalah Instrumen social yang dapat berperan untuk mengorganisasi masyarakat.
Dampak makro yang lain, menyangkut pemerataan pembangunan. Kesenjangan ekonomi sering terkait dengan kesenjangan informasi dan komunikasi.Jika akses informasi terbuka luas, kalangan ekonomi akan lebih mudah untuk mendapatkan informasi yang relevan dan dapat memperluas hubungan secara efisien. Salah satu contohnya : Informasi untuk mendapatkan peluang – peluang usaha dan mengembangkan usaha yang sudah ada. Dampak ini akan lebih dipercepat jika pengembangan teknologi informasi memberi prioritas yang cukup pada masyarakat pedesaan. Di Indonesia para pengambil keputusan selalu menghadapi pilihan mengenai konsumen mana yang harus dilayani terlebih dahulu karena berkaitan dengan mahalnya investasi sarana informasi. Sehingga sering diarahkan ke wilayah yang dapat menyerap biaya secara ekonomis.
Dampak makro sulitnya menambah jaringan informasi ke wilayah yang lebih luas ini rupanya umum terjadi dimana – mana. Karena itu dampak negative dan ketimpangan informasi dapat menjadi lebih besar lagi.

III. Penutup
Secara ringkas keterangan diatas memperlihatkan bahwa teknologi informasi membawa banyak dampak terhadap kehidupan masyarakat, khususnya Indonesia. Namun gambaran yang diperoleh masih jauh dari lengkap, karena kurangnya data dan penelitian mengenai hal tersebut. Padahal studi dampak akan banyak berguna dalam merencanakan pengembangan teknologi informasi, sehingga benar – benar mendukung untuk mencapai tujuan nasional.
Akhirnya baik juga untuk diingat, bahwa bagaimanapun pengaruh teknologi informasi, dampak keseluruhannnya akan tergantung pada kualitas system dan luas penetrasinya dalam menghubungkan seluruh wilayah tanah air Indonesia secara merata.

Jumat, 13 April 2012


-->
PEMANFAATAN TEKNOLOGI DAN RISET GUNA PENCAPAIAN KEBUTUHAN MASYARAKAT INDONESIA

PENDAHULUAN
Teknologi hanya akan memberikan kontribusi jika ia digunakan dalam proses produksi barang/jasa untuk meningkatkan kualitas hidup umat manusia. Untuk dapat digunakan, teknologi harus dikembangkan dengan mengenali terlebih dahulu pengguna potensialnya. Dalam konteks upaya pencapaian ini ada pengguna primer dan pengguna sekunder. Pengguna primer adalah pengguna yang langsung memamfaatkan teknologi untuk menghasilkan produk barang/jasa, sedang Pengguna sekundernya adalah pengguna yang tidak langsung/ pendukung dari pengguna primer. Kebutuhann dan persoalan nyata yang dihadapi oleh para pengguna perlu dipahami secara komprehensif terlebih dahulu, agar solusi teknologi yang ditawarkan diminati oleh para pengguna.
Saat ini kegiatan para periset dan akademisi lebih banyak dilakukan hanya pada tataran untuk memuaskan rasa keingintahuan dan belum secara cermat dirancang untuk menghasilkan solusi teknologi bagi berbagai permasalahan nasional.

Kata kunci : Teknologi, Riset

PEMANFAATAN TEKNOLOGI
Kapasitas adopsi para pengguna teknologi  harus setara dengan teknologi yang dikembangkan agar proses adopsi dapat berlangsung. Kapasitas adopsi pengguna tersebut perlu dilihat dari kemampua teknis, manajerial, finansial, dann sosiokultural. Banyak teknologi pertanian /pangan di masa lalu yang diintroduksikan kepada para pengguna (terutama pengguna primer) tetapi tidak digunakan dalam proses produksi  sebagai akibat dari tidak padunya antara teknologi yang diintroduksikan dengan kebutuhan dan /atau kapasitas adopsi pihak pengguna.
Faktor penyebab kondisi pemanfaatan teknologi sulit dicapai salah satunya adalah karena teknologi belum berkontribusi secara efektif. Hal ini terutama disebabkan karena teknologi yang dikembangkan belum selaras dengan kebutuhan dan persoalan nyata yang dihadapi para penggunanya, atau karena tidak mempertimbangkan kapasitas adopsi para penggunanya.
Pemanfaatan teknologi di Indonesia akan tercapai jika seluruh individu rakyat Indonesia mempunyai akses (secara fisik dan finansial) untuk mendapatkannyadapat produktif. Jika konsisten dengan ini, maka pembangunan terutama industri harus lebih berorientasi pada upaya pemenuhan permintaan pasar domestik. Kemandirian dalam pemenuhan kebutuhan domestic merupakan modal dasar dalam menangkal dampak krisis global. Keberpihakan pada Pengguna Primer, Teknologi yang dikembangkan perlu ‘lebih bersahabat ’ dan diarahkan untuk memudahkan para pengguna terutama pengguna primer, misalkan teknologi pertanian diarahkan dan didukung oleh kebijakan – kebijakan pemerintah untuk para petani, peternak, pembudidaya ikan, nelayan.

KONTRIBUSI TEKNOLOGI SAAT INI
Kontribusi teknologi yang ditampilkan dalam publikansi beberapa Balitbang lebih menonjolkan peningkatan produksi/produktivitas terkait dengan aplikasi teknologi, tetapi tidak secara spesifik memilah antara peningkatan produksi /produktivitas sebagai akibat langsung teknologi dengan akibat input teknologi lainnya, serta tidak menginformasikan tentang tambahan ongkos produksi akibat  aplikasi  teknologi dimaksud.
Salah satu pendekatan yang digunakan untuk estimasi kontribusi teknologi terhadap peningkatan produktivitas, adalah dengan menghitung Total Factor Productivity (TFP). Pada prinsipnya, TFP merupakan variabel untuk mengukur dampak terhadap keluaran (output )total yang tidak disebabkan oleh tangible input ,yakni capital input dan labor input yang terpakai dalam proses produksi. TFP menaksir dampak dan riintangible input , termasuk kontribusi teknologi walaupun  tidak terbatas hanya oleh teknologi.
Maknanya, jika nilai TFP negatif berarti peningkatan inputs tak sebanding dengan peningkatan outputs, selain kontribusi teknologi tidak terdeteksi juga proses produksi berlangsung secara kurang efisien.

MENGGESER ORIENTASI RISET
Rendahnya kontribusi teknologi terhadap pembangunan perekonomian nasional (sebagaimana tercermin dari nilai Total Factor Productivity ) sering dikaitkan dengan alokasi anggaran Negara yang kecil dalam mendukung kegiatan riset. Walaupun faktanya memang alokasi anggaran tersebut masih rendah, tetapi rendahnya kontribusi teknologi juga disebabkan karena ketidakpaduan antara teknologi yang dikembangkan dengan kebutuhan dan problem yang dihadapi publik dan para pengguna teknologi. Hasil riset atau teknologi domestik yang diadopsi oleh pengguna untuk menghasilkan barang/jasa yang dibutuhkan masyarakat masih sangat rendah.
Saat ini kegiatan para periset dan akademisi lebih banyak dilakukan hanya pada tataran untuk memuaskan rasa keingin -tahuan dan belum secara cermat dirancang untuk menghasilkan solusi teknologi bagi berbagai permasalahan nasional.
Sepatutnya riset untuk pengembangan ilmu pengetahuan tak harus secara dikotomis dipisahkan dengan riset untuk menyediakan solusi bagi persoalan nyata. Sebaliknya, riset ini perlu diposisikann pada alur yang sama. Ilmu pengetahuan yang berhasil dikembangkan dapat dijadikan modal dasar untuk mengkreasi teknologi yang tepat sebagai solusi bagi persoalan nyata yang dihadapi. Hal ini bermakna bahwa riset akademik (walaupu hasilnya belum berupa solusi persoalan ) tetapi perlu lebih diarahkan untuk menyediakan landasan bagi pengembangan teknologi yang secara nyata dibutuhkan. Sensitivitas para akademisi dan periset terhadap persoalan nyata tetap dibutuhkan , terlepas dari pilihan yang diminatinya. Dunia akademik tak boleh terisolir dari dunia nyata. Perguruan tinggi dan lembaga riset tak boleh menjadi ‘menara gading ’, karena persoalan yang dihadapi rakyat dan bangsa pada saat ini sudah terlalu besar untuk diabaikann oleh semua pihak, terutama oleh komunitas cerdas di perguruan tinggi dan lembaga riset.
Sudah waktunya riset yang berorientasi langsung untuk menjawab persoalan nyata juga mempunyai bobot akademik yang tinggi jika dilakukan sesuai dan konsisten dengan metodologi riset tepat. Bobot akademik lebih ditentukan oleh bagaimana riset dilakukan bukan oleh jenis keluaran yang dihasilkan.
Sistem Inovasi Nasional (SINas) yang belum mampu menjadi mesin pengerak perekonomian antara lain disebabkan oleh keengganan komunitas pengembang ilmu pe getahuan dan teknologi untuk bergeser.

REORIENTASI SISTEM INOVASI NASIONAL
Masalah fundanmental yang berkaitan dengan ketidakpaduan antara teknologi yang dikembangkan dengan kebutuhan pengguna teknologi perlu diselesaikann terlebih dahulu sebelum langkah-langkah lain diambil, karena solusi yang tepat untuk masalah ini merupakan ‘faktor kunci keberhasilan ’ pengembangan SINas. Secara akademik, ada dua alternatif yang bisa ditempuh,yakni dengan pendekata ‘upply-pu h ’ (mengembangkan teknologi terlebih dahulu, baru kemudian menawarkannya kepada pengguna) atau ‘demand-driven ’ (memahami terlebih dahulu kebutuhan pengguna, baru kemudian mengembangkan teknologi yang sesuai).
Pendekatan upply-pu h yang selama ini secara dominan dilakukan ,secara faktual terbukti tidak mampu mengalirkan teknologi yang dikembangkan tersebut,sehingga SINas menjadi mandul dan teknologi tidak mampu memberikan kontribusi yang berarti terhadap pembangunan nasional. Fakta ini menuntut perlunya dilakukan reorientasi pendekatan ,yakni menggeser pendekatan dari yang lebih dominan upply-pu h , menjadi lebih dominan demand-driven .
Pendekatan demand-driven membutuhka perubahan mendasar dalam prilaku kerja para akademisi dan periset,termasuk:
[1 ] reposisi akademisi dan periset yang selama ini mengambil perann sebagai penentu arah SINas, menjadi pemasok teknologi yang dibutuhkan pengguna;
[2 ] Pengguna teknologi perlu diposisikan sebagai penjuru dalam pengembangan  SINas.

Upaya intensifikansi komunikansi dan interaksi antara pengembang dan pengguna teknologi mempunyai dua alternatif pilihan ,yakni dengan intervensi dari luar sistem (external force ) dan menumbuhkan kesadaran saling membutuhkan dalam internal sistem (internal attraction ). Intervensi dari luar sistem dapat berupa regulasi yang ‘rigid ’ untuk mendorong agar komunikansi dan interaksi tersebut terjadi dan dapat pula melalui peran pro-aktif kelembagaan intermediasi. Pilihan kebijakan yang paling ideal adalah menumbuhkan hubungan mutualistik pengembang pengguna teknologi yang didukung oleh regulasi untuk menjamin lingkungan tumbuh kembang SINas yang kondusif dan dukungan lembaga intermediasi secara profesional dan proporsional.
Ada tiga aktor utama yang terlibat langsung dalam proses aliran teknologi ini ,yakni pengembang teknologi (periset dan akademisi -A), pengguna teknologi (primer/sekunder -B) yang sekaligus sebagai pelaku produksi,dan pemerintahan (government -G) yang melakukan fasilitasi dan regulasi agar hubungan pengembang-pengguna teknologi dapat lebih intensif dan bersifat mutualistik. Dinamika interaksi dan ko-evolusi antara tiga aktor utama ini merupakan dasar dari konsepsi ‘Triple Helix A-B-G ’.
Strategi yang dapat dipilih untuk meningkatkan kinerja SINas guna meningkatkan kontribusi teknologi adalah:
[1 ] Sinkronisasi antara teknologi yang dikembangkan dengan permasalahan yang dihadapi oleh Pengguna.
[2 ] Insentif bagi pengguna dengan memberi rangsangan untuk tumbuh-kembang yang berbasis teknologi nasional dan sesuai dengan permintaan pasar domestik;
[3 ] Vitalisasi lembaga intermediasi untuk percepatan proses adopsi teknologi oleh pengguna dan industri dalam negeri;dan
 [4 ]Dukungan peranturan perundang-udangan sebagai landasan hukum untuk  memfasilitasi, menstimulasi, dan mengakselerasi interaksi antar aktor SINas dan kelembagaan pendukung lainnya.

PENUTUP
Berdasarkan persoalan pokok yang dihadapi dan dikaitkan dengan target dan prioritas nasional yang telah ditetapkan untuk dikembangkan ,maka akan ditetapkan program dan kegiatan prioritas untuk riset melalui ARN ( Agenda riset Nasional ) untuk menentukan skala prioritas dan teknik pemanfaat teknologi, adalah mendorong agar kegiatan riset untuk menghasilkan teknologi menjadi arus utama riset nasional, sehingga diharapkan mampu menghasilkan teknologi yang sesuai kebutuhan dan /atau mampu menjadi solusi bagi permasalahan yang dihadapi dalam upaya mewujudkan masayarakat yang sejahtera.






REFERENSI
Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pertanian .2008.Kontribusi Teknologi
Deptan ,Jakarta.
Lakita ,B.2009.Reorientasi Sistem Inovasi Nasional Indonesia:kebijakan ,strategi,dan upaya.
Orasinilmiah Dies Natalis ke 46 Universitas Negeri Gorontalo.Gorontalo,2 September 2009.

tugas mata kuliah komunikasi interpersonal

buat resume materi kuliah komunikasi interpersonal, dengan ketentuan
1. diketik dengan TAHOMA
2. dicetak dengan kertas A4
3. jarak spasi 1,5

Senin, 12 Maret 2012

Bersama juara Olimpiade Matematika 2012

Minggu, 15 Maret 2009

Pernikahan Dini Rawan Kanker

Setiap wanita beresiko tinggi terkena kanker leher rahim atau serviks tanpa memandang usia maupun gaya hidup. Yayasan Kanker Indonesia (YKI) pun mencatat kasus baru. Sebanyak 40-45 orang per hari terkena kanker. Dengan resiko kematian mencapai separoh lebih. Atau setiap satu jam, seorang wanita meninggal karena mengindap serviks.

Hal itulah yang menjadi topik pembicaraan dalam seminar kesehatan vaksinasi Human Papilloma Virus (HPV) sebagai upaya pencegahan kanker leher rahim di Gedung Bappeda Ponorogo, kemarin (14/3). ''Kanker leher rahim merupakan masalah kesehatan yang tidak hanya mengganggu fisik dan kehidupan seksual saja. Tetapi juga mengganggu psikologis,'' terang dr Arief Prijatna, salah seorang pembicara pada koran ini.

Pernikahan dini salah satu penyebab utama terjadinya kanker leher rahim pada wanita. Pada masa transisi (remaja, Red) rawan akan terjadinya infeksi saat berhubungan suami istri. ''Tidak itu saja, terlalu sering melahirkan, kontrasepsi oral jangka panjang dan kurangnya perawatan kebersihan juga berpeluang terkena serviks,'' ungkapnya.

Sebenarnya, kanker leher rahim sendiri dapat dihindari oleh kaum wanita dengan melakukan pemeriksaan secara rutin untuk deteksi dini. Sebagai upaya pencegahan sekunder. Serta melakukan vaksinasi HPV sebagai upaya pencegahan primer. ''Untuk itu sekarang ini setiap Polindes dan Puskesmas sudah disediakan alat khusus guna mendeteksi serviks,'' paparnya.

Kanker leher rahim dapat disembuhkan asalkan ditemukan pada stadium dini. Kenyataan yang terjadi kasus serviks ditemukan pada stadium lanjut. Sehingga sulit disembuhkan, bahkan berujung pada kematian. ''Untuk menjalankan operasi dalam stadium dini masih bisa dilakukan. Tetapi kalau sudah stadium lanjut sudah rawan akan kematian,'' ungkapnya.

Sementara, ketua panitia seminar tersebut, Listyorini Barunanto mengungkapkan bahwa kaum hawa selama ini cenderung pasif dalam masalah kesehatan. Untuk itu, pihaknya akan merangsang mereka aktif dalam melakukan pemeriksaan di Polindes dan Puskesmas terdekat. ''Sekarang fasilitasnya kan sudah banyak terpenuhi. Jadi setiap wanita harus sering kali menjalankan pemeriksaan kesehatan,'' tambanya.(dip/eba)

Senin, 02 Februari 2009

SISTEM KREDIT SEMESTER

Sistem Kredit Semester
Oleh : Sujarwo,S.T

Sistem Kredit
Program pendidikan dilaksanakan dengan sistem kredit. Sistem kredit adalah suatu penyelenggaraan pendidikan dimana beban studi mahasiswa, beban kerja tenaga pengajar dan beban penyelenggaraan program lembaga pendidikan dinyatakan dalam kredit.
Sistem Kredit Semester (SKS) adalah satuan yang digunakan untuk menyatakan besarnya studi mahasiswa, besarnya pengakuan atas keberhasilan usaha mahasiswa, besarnya pengakuan atas keberhasilan kumulatif bagi suatu program tertentu, serta besarnya usaha untuk menyelenggarakan pendidikan bagi perguruan tinggi khususnya bagi tenaga pengajar.

Tujuan Sistem Kredit
Tujuan umum penerapan sistem kredit pada perguruan tinggi di Indonesia adalah agar perguruan tinggi dapat lebih memenuhi tuntutan pembangunan, karena didalamnya dimungkinkan penyajian program pendidikan yang bervariasi dan fleksibel, sehingga memberi kemungkinan lebih luas kepada mahasiswa untuk memilih program menuju suatu macam keahlian akademik atau keahlian professional tertentu yang dituntut oleh pembangunan.

Ciri-Ciri Sistem Kredit
Sistem kredit mempunyai cirri-ciri dasar:
1. Bahwa setiap mata kuliah harus diberi harga yang dinamakan nilai kredit.
2. Banyaknay nilai kredit untuk mata kuliah yang berlainan tidak perlu sama.
3. Banyaknya nilai kredit untuk masing-masing mata kuliah ditentukan besarnya usaha untuk menyelesaikan tugas-tugas yang dinyatakan dalam program perkuliahan praktikum, praktek kerja lapangan maupun tugas-tugas lain.

Sistem Semester
Semester adalah satuan waktu terkecil untuk menyatakan lamanya suatu program pendidikan dalam suatu jenjang pendidikan. Satu semester setara dengan 18 minggu kerja, yang terdiri 16 minggu untuk kuliah dan 2 minggu untuk ujian.
Sistem semester adalah sistem penyelenggaraan program pendidikan dengan menggunakan satuan waktu semester. Penyelenggaraan pendidikan dalam satu semester terdiri atas kegiatan perkuliahan teori, praktikum, kerja praktek/lapangan, tugas terstruktur, dan tugas mandiri.

Sistem Kredit Semester
Sistem kredit semester (SKS) adalah sistem penghargaan terhadap kegiatan akademik yang menggunakan satuan waktu semester. SKS bertujuan menyajikan program akademik yang bervariasi dan fleksibel, sehingga memberi keleluasaan mahasiswa memilih program studi. Dalam pelaksanaanya SKS untuk menyatakan besarnya beban studi kegiatan akademik mahasiswa dalam satuan waktu tertent ( semester ). Waktu / jam semester merupakan satuan waktu tatap muka yang diperlukan dalam satu minggu untuk satu semester, yang setara dengan 50 menit/sks.

Nilai Kredit Semester
Beban Studi Dalam Satu Semester
Besarnya beban studi mahasiswa dinyatakan dalam kredit semester suatu mata kuliah. Untuk mata kuliah teori dan untuk mata kuliah praktikum, penelitian, dan ker praktek. Dalam menentukan beban studi satu semester perlu juga diperhatikan kemampuan individu. Hal ini dapat dilihat dari hasil studi seorang mahasiswa pada semester yang lalu yang diukur dengan indeks prestasi dihitung sebagai berikut:


( K x NA )
IP =
K
Keterangan :
IP = Indeks Prestasi
K = Satuan kredit semester untuk setiap MK yang diprogram.
NA = Nilai masing-masing mata kuliah
Pada awal semester pertama mahasiswa baru diberikan beban belajar antara 18 – 22 SKS. Kemudian dengan IP yang diperoleh dapat diperhitungkan beban belajar pada semester berikutnya. Jumlah beban studi maksimal yang boleh diambil setiap mahasiswa semester berikutnya ditetapkan sebagai berikut :

Indek prestasi yang dicapai sebelumnya Maksimal beban studi yang bisa diprogramkan
< 1,49
1,50 – 1,99
2,00 – 2,49
2,50 – 2,99
> 3,00 12 sks
15 sks
18 sks
21 sks
24 sks

Beban Studi selama masa studi program S-1 pada Fakultas teknik adalah 155 sks. Dengan lama studi secara normal dapat diselesaikan 8 semester atau 4 tahun.

isd/ibd

MATA KULIAH
DOSEN
POKOK BAHASAN : ISD/IBD
: SUJARWO,ST
: PENDUDUK & PERMASALAHANNYA

1. PENDAHULUAN
Sejarah perkembangan kebudayaan manusia selalu ditandai dengan munculnya letupan – letupan yang menjadi ciri khas sekaligus yang membedakan satu masa dengan masa berikutnya. Dasar dari gejolak itu adanya desakan keinginan dan kebutuhan manusia yang makin lama makin bertambah besar, sampai pada saat manuisa dihadapkan pada pencarian alternatif jawaban dari pertanyaan “ Bagaimana bertahan hidup dari populasi yang terus membengkak?”.

2. PENDUDUK DAN PERMASALAHANNYA
Keresahan dunia terhadap ledakan penduduk yang pesat bila dikaitkan dengan factor pendukung, yaitu :
a. Ketersediaan Sarana.
b. Sumber Daya
c. Iklim yang Kondusif.
Dapat dibayangkan bila jumlah penduduk dunia bertambah tanpa kendali sementara daya dukung tidak diperhatikan, maka akan menjadi ‘”Bumerang” , sebab akan mempermudah datangnya keresahan dan gejolak social bahkan bisa menjurus kearah timbulnya ketegangan antar individu.


Permasalahan – permasalahan yang terjadi saat ini meliputu :
a. Ketidakseimbangan antar sumber daya alam dengan jumlah penduduk.
b. Ketidaksamaan keadaan ekonomi antar negara satu dengan negara yang lain.
c. Keberatan pandangan agama antar agama satu dengan agama lain.
d. Rendahnya tingkat pendidikan dinegara negara berkembang.
e. Perbedaan budaya yang beraneka ragam.

3. PENDUDUK INDONESIA
Permasalahan kependudukan juga menghantui Indonesia sebagai negara berkembang yang sedang giat – giatnya membangun. Di Indonesia penyebab yang mendorong terjadinya problem kependudukan baik secara kuntitatif maupun kualitatif , antara lain :
a. Kemajuan dibidang ilmu pengetahuan dan teknologi .
b. Hasrat manusia yang selalu ingin memperoleh kondisi yang lebih baik.
c. Keterbatasan kemampuan dukungan sumber daya alam.
d. Keamanan dan kesetabilan negara.

Masalah Kependudukan Kuantitatif.
-, Tingkat pertumbuhan pendudk ditentutkan oleh 3 faktor yakni :
• Fertilitas
• Mortalitas
• Migrasi

-, Penyebaran penduduk yang tidak merata.
Ditandai dengan besarnya jumlah penduduk yang bermukim di jawa, sehingga lebih dari 2/3 penduduk Indonesia bermukim di jawa.
-, Komposisi penduduk yang tidak menguntungkan.
Akibat tingginya tingkat kelahiran sehingga besarnya prosentase golongan penduduk muda, yang mengakibatkan banyaknya angka ketergantungan bagi tenaga kerja produktif ditambah oleh penduduk yang telah berusia lanjut.

Masalah – masalah Kualitatif
-, Kebutuhan Pangan.
-, Tingkat pendidikan penduduk
-, Tingkat pelayanan kesehatan
-, Perumahan
-, Pendapatan Perkapita.
-, Kelestarian lingkungan dan sumber daya alam
-, Tenaga Kerja







MATA KULIAH
DOSEN
POKOK BAHASAN : ISD/IBD
: SUJARWO,ST
: MASYARAKAT DAN KEBUDAYAAN

Masyarakat dan kebudayaan ibarat dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Kebudayaan adalah seuatu yang kompleks yang mengatur pengetahuan, kepercayan, kesenian, moral, hokum, adat istiadat serta kebiasaan – kebiasaan yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat. Kebuadayaan dapat dipandang sebagai cara hidup ( way of life ).

Unsur – unsure Kebudayaan Universal.
Kebudayaan universal merupakan unsure – unsure dibagi menjadi 7 unsur, yaitu :
1. Peralatan dan perlengkapan hidup manuisa.
2. mata pencaharian hidup dan system ekonomi.
3. Sistem kemasyarakatan.
4. bahasa
5. Kesenian
6. system pengetahuan
7. Religi ( system kepercayaan )





A. Definisi Masyarakat
Dalam Bahasa Inggris disebut Society, asal katanya Socius yang berarti “kawan”. Kata “Masyarakat” berasal dari bahasa Arab, yaitu Syiek, artinya “bergaul”. Adanya saling bergaul ini tentu karena ada bentuk – bentuk akhiran hidup, yang bukan disebabkan oleh manusia sebagai pribadi melainkan oleh unsur – unsur kekuatan lain dalam lingkungan sosial yang merupakan kesatuan

B. Masyarakat Pedesaan (masyarakat tradisional)
a. Pengertian desa/pedesaan
Yang dimaksud dengan desa menurut Sutardjo Kartodikusuma mengemukakan sebagai berikut: Desa adalah suatu kesatuan hukum dimana bertempat tinggal suatu masyarakat pemerintahan tersendiri
Menurut Bintaro, desa merupakan perwujudan atau kesatuan goegrafi ,sosial, ekonomi, politik dan kultur yang terdapat ditempat itu (suatu daerah), dalam hubungan dan pengaruhnya secara timbal balik dengan daerah lain.
Sedang menurut Paul H. Landis :Desa adalah pendudunya kurang dari 2.500 jiwa. Dengan ciri ciri sebagai berikut :
a) mempunyai pergaulan hidup yang saling kenal mengenal antara ribuan jiwa.
b) Ada pertalian perasaan yang sama tentang kesukaan terhadap kebiasaan
c) Cara berusaha (ekonomi)adalah agraris yang paling umum yang sangat dipengaruhi alam seperti : iklim, keadaan alam ,kekayaan alam, sedangkan pekerjaan yang bukan agraris adalah bersifat sambilan
Dalam kamus sosiologi kata tradisional dari bahasa Inggris, Tradition artinya Adat istiadat dan kepercayaan yang turun menurun dipelihara, dan ada beberapa pendapat yang ditinjau dari berbagai segi bahwa, pengertian desa itu sendiri mengandung kompleksitas yang saling berkaitan satu sama lain diantara unsur-unsurnya, yang sebenarnya desa masih dianggap sebagai standar dan pemelihara sistem kehidupan bermasyarakat dan kebudayaan asli seperti tolong menolong, keguyuban, persaudaraan, gotong royong, kepribadian dalam berpakaian, adat istiadat , kesenian kehidupan moral susila dan lain-lain yang mempunyai ciri yang jelas.
Dalam UU Nomor 32 Tahun 2004 disebutkan pengertian desa sebagai kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah, yang berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat, berdasarkan asal-usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam system pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Dari defenisi tersebut, sebetulnya desa merupakan bagian vital bagi keberadaan bangsa Indonesia. Vital karena desa merupakan satuan terkecil dari bangsa ini yang menunjukkan keragaman Indonesia. Selama ini terbukti keragaman tersebut telah menjadi kekuatan penyokong bagi tegak dan eksisnya bangsa. Dengan demikian penguatan desa menjadi hal yang tak bisa ditawar dan tak bisa dipisahkan dari pembangunan bangsa ini secara menyeluruh.
Memang hampir semua kebijakan pemerintah yang berkenaan dengan pembangunan desa mengedepankan sederet tujuan mulia, seperti mengentaskan rakyat miskin, mengubah wajah fisik desa, meningkatkan pendapatan dan taraf hidup masyarakat, memberikan layanan social desa, hingga memperdayakan masyarakat dan membuat pemerintahan desa lebih modern. Sayangnya sederet tujuan tersebut mandek diatas kertas.
Karena pada kenyataannya desa sekedar dijadikan obyek pembangunan, yang keuntungannya direguk oleh actor yang melaksanakan pembangunan di desa tersebut : bisa elite kabupaten, provinsi, bahkan pusat. Di desa, pembangunan fisik menjadi indicator keberhasilan pembangunan. Karena itu, Program Pengembangan Kecamatan (PPK) yang ada sejak tahun 2000 dan secara teoritis memberi kesempatan pada desa untuk menentukan arah pembangunan dengan menggunakan dana PPK, orientasi penggunaan dananyapun lebih untuk pembangunan fisik. Bahkan, di Sumenep (Madura), karena kuatnya peran kepala desa (disana disebut klebun) dalam mengarahkan dana PPK untuk pembangunan fisik semata, istilah PPK sering dipelesetkan menjadi proyek para klebun.
Menyimak realitas diatas, memang benar bahwa yang selama ini terjadi sesungguhnya adalah “Pembangunan di desa” dan bukan pembangunan untuk, dari dan oleh desa. Desa adalah unsur bagi tegak dan eksisnya sebuah bangsa (nation) bernama Indonesia.
Kalaupun derap pembangunan merupakan sebuah program yang diterapkan sampai kedesa-desa, alangkah baiknya jika menerapkan konsep :”Membangun desa, menumbuhkan kota”. Konsep ini, meski sudah sering dilontarkan oleh banyak kalangan,
tetapi belum dituangkan ke dalam buku yang khusus dan lengkap. Inilah tantangan yang harus segera dijawab.
b. Ciri-ciri Masyarakat desa (karakteristik)
Dalam buku Sosiologi karangan Ruman Sumadilaga seorang ahli Sosiologi “Talcot Parsons” menggambarkan masyarakat desa sebagai masyarakat tradisional (Gemeinschaft) yang mebngenal ciri-ciri sebagai berikut :
a. Afektifitas ada hubungannya dengan perasaan kasih sayang, cinta , kesetiaan dan kemesraan. Perwujudannya dalam sikap dan perbuatan tolong menolong, menyatakan simpati terhadap musibah yang diderita orang lain dan menolongnya tanpa pamrih.
b. Orientasi kolektif sifat ini merupakan konsekuensi dari Afektifitas, yaitu mereka mementingkan kebersamaan , tidak suka menonjolkan diri, tidak suka akan orang yang berbeda pendapat, intinya semua harus memperlihatkan keseragaman persamaan.
c. Partikularisme pada dasarnya adalah semua hal yang ada hubungannya dengan keberlakuan khusus untuk suatu tempat atau daerah tertentu. Perasaan subyektif, perasaan kebersamaan sesungguhnya yang hanya berlaku untuk kelompok tertentu saja.(lawannya Universalisme)
d. Askripsi yaitu berhubungan dengan mutu atau sifat khusus yang tidak diperoleh berdasarkan suatu usaha yang tidak disengaja, tetapi merupakan suatu keadaan yang sudah merupakan kebiasaan atau keturunan.(lawanya prestasi).
e. Kekabaran (diffuseness). Sesuatu yang tidak jelas terutama dalam hubungan antara pribadi tanpa ketegasan yang dinyatakan eksplisit. Masyarakat desa menggunakan bahasa tidak langsung, untuk menunjukkan sesuatu. Dari uraian tersebut (pendapat Talcott Parson) dapat terlihat pada desa-desa yang masih murni masyarakatnya tanpa pengaruh dari luar.

C. Masyarakat Perkotaan
a. Pengertian Kota
Seperti halnya desa, kota juga mempunyai pengertian yang bermacam-macam seperti pendapat beberapa ahli berikut ini.
i. Wirth
Kota adalah suatu pemilihan yang cukup besar, padat dan permanen, dihuni oleh orang-orang yang heterogen kedudukan sosialnya.
ii. Max Weber
Kota menurutnya, apabila penghuni setempatnya dapat memenuhi sebagian besar kebutuhan ekonominya dipasar lokal.

iii. Dwigth Sanderson
Kota ialah tempat yang berpenduduk sepuluh ribu orang atau lebih.
Dari beberapa pendapat secara umum dapat dikatakan mempunyani ciri-ciri mendasar yang sama. Pengertian kota dapat dikenakan pada daerah atau lingkungan komunitas tertentu dengan tingkatan dalam struktur pemerintahan.
Menurut konsep Sosiologik sebagian Jakarta dapat disebut Kota, karena memang gaya hidupnya yang cenderung bersifat individualistik. Marilah sekarang kita meminjam lagi teori Talcott Parsons mengenai tipe masyarakat kota yang diantaranya mempunyai ciri-ciri :
a). Netral Afektif
Masyarakat Kota memperlihatkan sifat yang lebih mementingkat Rasionalitas dan sifat rasional ini erat hubungannya dengan konsep Gesellschaft atau Association. Mereka tidak mau mencampuradukan hal-hal yang bersifat emosional atau yang menyangkut perasaan pada umumnya dengan hal-hal yang bersifat rasional, itulah sebabnya tipe masyarakat itu disebut netral dalam perasaannya.
b). Orientasi Diri
Manusia dengan kekuatannya sendiri harus dapat mempertahankan dirinya sendiri, pada umumnya dikota tetangga itu bukan orang yang mempunyai hubungan kekeluargaan dengan kita oleh karena itu setiap orang dikota terbiasa hidup tanpa menggantungkan diri pada orang lain, mereka cenderung untuk individualistik.
c). Universalisme
Berhubungan dengan semua hal yang berlaku umum, oleh karena itu pemikiran rasional merupakan dasar yang sangat penting untuk Universalisme.
d). Prestasi
Mutu atau prestasi seseorang akan dapat menyebabkan orang itu diterima berdasarkan kepandaian atau keahlian yang dimilikinya.
e). Heterogenitas
Masyarakat kota lebih memperlihatkan sifat Heterogen, artinya terdiri dari lebih banyak komponen dalam susunan penduduknya.
b. Ciri-ciri masyarakat Perkotaan
Ada beberapa ciri yang menonjol pada masyarakat perkotaan, yaitu :
i. Kehidupan keagamaannya berkurang, kadangkala tidak terlalu dipikirkan karena memang kehidupan yang cenderung kearah keduniaan saja.
ii. Orang kota pada umumnya dapat mengurus dirinya sendiri tanpa harus berdantung pada orang lain (Individualisme).
iii. Pembagian kerja diantara warga-warga kota juga lebih tegas dan mempunyai batas-batas yang nyata.
iv. Kemungkinan-kemungkinan untuk mendapatkan pekerjaan juga lebih banyak diperoleh warga kota.
v. Jalan kehidupan yang cepat dikota-kota, mengakibatkan pentingnya faktor waktu bagi warga kota, sehingga pembagian waktu yang teliti sangat penting, intuk dapat mengejar kebutuhan-kebutuhan seorang individu.
vi. Perubahan-perubahan tampak nyata dikota-kota, sebab kota-kota biasanya terbuka dalam menerima pengaruh-pengaruh dari luar.


D. Perbedaan antara desa dan kota
Dalam masyarakat modern, sering dibedakan antara masyarakat pedesaan (rural community) dan masyarakat perkotaan (urban community). Menurut Soekanto (1994), per-bedaan tersebut sebenarnya tidak mempunyai hubungan dengan pengertian masyarakat sederhana, karena dalam masyarakat modern, betapa pun kecilnya suatu desa, pasti ada pengaruh-pengaruh dari kota. Perbedaan masyarakat pedesaan dan masyarakat perkotaan, pada hakekatnya bersifat gradual.
Kita dapat membedakan antara masya-rakat desa dan masyarakat kota yang masing-masing punya karakteristik tersendiri. Masing-masing punya sistem yang mandiri, dengan fungsi-fungsi sosial, struktur serta proses-proses sosial yang sangat berbeda, bahkan kadang-kadang dikatakan "berlawanan" pula. Perbedaan ciri antara kedua sistem tersebut dapat diungkapkan secara singkat menurut Poplin (1972) sebagai berikut:
Masyarakat Pedesaan Masyarakat Kota
Perilaku homogen
Perilaku yang dilandasi oleh konsep kekeluargaan dan kebersamaan
Perilaku yang berorientasi pada tradisi dan status
Isolasi sosial, sehingga statik
Kesatuan dan keutuhan kultural
Banyak ritual dan nilai-nilai sakral
Kolektivisme Perilaku heterogen
Perilaku yang dilandasi oleh konsep pengandalan diri dan kelembagaan
Perilaku yang berorientasi pada rasionalitas dan fungsi
Mobilitas sosial, sehingga dinamik
Kebauran dan diversifikasi kultural
Birokrasi fungsional dan nilai-nilai sekular Individualisme
Warga suatu masyarakat pedesaan mempunyai hubungan yang lebih erat dan lebih mendalam ketimbang hubungan mereka dengan warga masyarakat pedesaan lainnya. Sistem kehidupan biasanya berkelompok atas dasar sistem kekeluargaan (Soekanto, 1994). Selanjutnya Pudjiwati (1985), menjelaskan ciri-ciri relasi sosial yang ada di desa itu, adalah pertama-tama, hubungan kekerabatan. Sistem kekerabatan dan kelompok kekerabatan masih memegang peranan penting. Penduduk masyarakat pedesaan pada umumnya hidup dari pertanian, walaupun terlihat adanya tukang kayu, tukang genteng dan bata, tukang membuat gula, akan tetapi inti pekerjaan penduduk adalah pertanian. Pekerjaan-pekerjaan di samping pertanian, hanya merupakan pekerjaan sambilan saja .
Golongan orang-orang tua pada masyarakat pedesaan umumnya memegang peranan penting. Orang akan selalu meminta nasihat kepada mereka apabila ada kesulitan-kesulitan yang dihadapi. Nimpoeno (1992) menyatakan bahwa di daerah pedesaan kekuasaan-kekuasaan pada umumnya terpusat pada individu seorang kiyai, ajengan, lurah dan sebagainya.
Ada beberapa ciri yang dapat dipergunakan sebagai petunjuk untuk membedakan antara desa dan kota. Dengan melihat perbedaan perbedaan yang ada mudah mudahan akan dapat mengurangi kesulitan dalam menentukan apakah suatu masyarakat dapat disebut sebagi masyarakat pedeasaan atau masyarakat perkotaan.
Ciri ciri tersebut antara lain :
1) jumlah dan kepadatan penduduk
2) lingkungan hidup
3) mata pencaharian
4) corak kehidupan sosial
5) stratifiksi sosial
6) mobilitas sosial
7) pola interaksi sosial
8) solidaritas sosial
9) kedudukan dalam hierarki sistem administrasi nasional

E. Hubungan Desa-kota, hubungan pedesaan-perkotaan.
Masyarakat pedesaan dan perkotaan bukanlah dua komonitas yang terpisah sama sekali satu sama lain. Bahkan dalam keadaan yang wajar diantara keduanya terdapat hubungan yang erat. Bersifat ketergantungan, karena diantara mereka saling membutuhkan. Kota tergantung pada dalam memenuhi kebutuhan warganya akan bahan bahan pangan seperti beras sayur mayur , daging dan ikan. Desa juga merupakan sumber tenaga kasar bagi bagi jenis jenis pekerjaan tertentu dikota. Misalnya saja buruh bangunan dalam proyek proyek perumahan. Proyek pembangunan atau perbaikan jalan raya atau jembatan dan tukang becak. Mereka ini biasanya adalah pekerja pekerja musiman. Pada saat musim tanam mereka, sibuk bekerja di sawah. Bila pekerjaan dibidang pertanian mulai menyurut, sementara menunggu masa panen mereka merantau ke kota terdekat untuk melakukan pekerjaan apa saja yang tersedia.
“Interface”, dapat diartikan adanya kawasan perkotaan yang tumpang-tindih dengan kawasan perdesaan, nampaknya persoalan tersebut sederhana, bukankah telah ada alat transportasi, pelayanan kesehatan, fasilitas pendidikan, pasar, dan rumah makan dan lain sebagainya, yang mempertemukan kebutuhan serta sifat kedesaan dan kekotaan.
Hubungan kota-desa cenderung terjadi secara alami yaitu yang kuat akan menang, karena itu dalam hubungan desa-kota, makin besar suatu kota makin berpengaruh dan makin menentukan kehidupan perdesaan.
Secara teoristik, kota merubah atau paling mempengaruhi desa melalui beberapa caar, seperti: (i) Ekspansi kota ke desa, atau boleh dibilang perluasan kawasan perkotaan dengan merubah atau mengambil kawasan perdesaan. Ini terjadi di semua kawasan perkotaan dengan besaran dan kecepatan yang beraneka ragam; (ii) Invasi kota , pembangunan kota baru seperti misalnya Batam dan banyak kota baru sekitar Jakarta merubah perdesaan menjadi perkotaan. Sifat kedesaan lenyap atau hilang dan sepenuhnya diganti dengan perkotaan; (iii) Penetrasi kota ke desa, masuknya produk, prilaku dan nilai kekotaan ke desa. Proses ini yang sesungguhnya banyak terjadi; (iv) ko-operasi kota-desa, pada umumnya berupa pengangkatan produk yang bersifat kedesaan ke kota. Dari keempat hubungan desa-kota tersebut kesemuanya diprakarsai pihak dan orang kota. Proses sebaliknya hampir tidak pernah terjadi, oleh karena itulah berbagai permasalahan dan gagasan yang dikembangkan pada umumnya dikaitkan dalam kehidupan dunia yang memang akan mengkota.
Salah satu bentuk hubungan antara kota dan desa adalah :
a). Urbanisasi dan Urbanisme
Dengan adanya hubungan Masyarakat Desa dan Kota yang saling ketergantungan dan saling membutuhkan tersebut maka timbulah masalah baru yakni ; Urbanisasi yaitu suatu proses berpindahnya penduduk dari desa ke kota atau dapat pula dikatakan bahwa urbanisasi merupakan proses terjadinya masyarakat perkotaan. (soekanto,1969:123 ).
b) Sebab-sebab Urbanisasi
1.) Faktor-faktor yang mendorong penduduk desa untuk meninggalkan daerah kediamannya (Push factors)
2.) Faktor-faktor yang ada dikota yang menarik penduduk desa untuk pindah dan menetap dikota (pull factors)
• Hal – hal yang termasuk push factor antara lain :
a. Bertambahnya penduduk sehingga tidak seimbang dengan persediaan lahan pertanian,
b. Terdesaknya kerajinan rumah di desa oleh produk industri modern.
c. Penduduk desa, terutama kaum muda, merasa tertekan oleh oleh adat istiadat yang ketat sehingga mengakibatkan suatu cara hidup yang monoton.
d. Didesa tidak banyak kesempatan untuk menambah ilmu pengetahuan.
e. Kegagalan panen yang disebabkan oleh berbagai hal, seperti banjir, serangan hama, kemarau panjang, dsb. Sehingga memaksa penduduk desa untuk mencari penghidupan lain dikota.
• Hal – hal yang termasuk pull factor antara lain :
a. Penduduk desa kebanyakan beranggapan bahwa dikota banyak pekerjaan dan lebih mudah untuk mendapatkan penghasilan
b. Dikota lebih banyak kesempatan untuk mengembangkan usaha kerajinan rumah menjadi industri kerajinan.
c. Pendidikan terutama pendidikan lanjutan, lebih banyak dikota dan lebih mudah didapat.
d. Kota dianggap mempunyai tingkat kebudayaan yang lebih tinggi dan merupakan tempat pergaulan dengan segala macam kultur manusianya.
e. Kota memberi kesempatan untuk menghindarkan diri dari kontrol sosial yang ketat atau untuk mengangkat diri dari posisi sosial yang rendah ( Soekanti, 1969 : 124-125 ).