Total Tayangan Halaman
Senin, 12 Maret 2012
Minggu, 15 Maret 2009
Pernikahan Dini Rawan Kanker
Hal itulah yang menjadi topik pembicaraan dalam seminar kesehatan vaksinasi Human Papilloma Virus (HPV) sebagai upaya pencegahan kanker leher rahim di Gedung Bappeda Ponorogo, kemarin (14/3). ''Kanker leher rahim merupakan masalah kesehatan yang tidak hanya mengganggu fisik dan kehidupan seksual saja. Tetapi juga mengganggu psikologis,'' terang dr Arief Prijatna, salah seorang pembicara pada koran ini.
Pernikahan dini salah satu penyebab utama terjadinya kanker leher rahim pada wanita. Pada masa transisi (remaja, Red) rawan akan terjadinya infeksi saat berhubungan suami istri. ''Tidak itu saja, terlalu sering melahirkan, kontrasepsi oral jangka panjang dan kurangnya perawatan kebersihan juga berpeluang terkena serviks,'' ungkapnya.
Sebenarnya, kanker leher rahim sendiri dapat dihindari oleh kaum wanita dengan melakukan pemeriksaan secara rutin untuk deteksi dini. Sebagai upaya pencegahan sekunder. Serta melakukan vaksinasi HPV sebagai upaya pencegahan primer. ''Untuk itu sekarang ini setiap Polindes dan Puskesmas sudah disediakan alat khusus guna mendeteksi serviks,'' paparnya.
Kanker leher rahim dapat disembuhkan asalkan ditemukan pada stadium dini. Kenyataan yang terjadi kasus serviks ditemukan pada stadium lanjut. Sehingga sulit disembuhkan, bahkan berujung pada kematian. ''Untuk menjalankan operasi dalam stadium dini masih bisa dilakukan. Tetapi kalau sudah stadium lanjut sudah rawan akan kematian,'' ungkapnya.
Sementara, ketua panitia seminar tersebut, Listyorini Barunanto mengungkapkan bahwa kaum hawa selama ini cenderung pasif dalam masalah kesehatan. Untuk itu, pihaknya akan merangsang mereka aktif dalam melakukan pemeriksaan di Polindes dan Puskesmas terdekat. ''Sekarang fasilitasnya kan sudah banyak terpenuhi. Jadi setiap wanita harus sering kali menjalankan pemeriksaan kesehatan,'' tambanya.(dip/eba)
Senin, 02 Februari 2009
SISTEM KREDIT SEMESTER
Oleh : Sujarwo,S.T
Sistem Kredit
Program pendidikan dilaksanakan dengan sistem kredit. Sistem kredit adalah suatu penyelenggaraan pendidikan dimana beban studi mahasiswa, beban kerja tenaga pengajar dan beban penyelenggaraan program lembaga pendidikan dinyatakan dalam kredit.
Sistem Kredit Semester (SKS) adalah satuan yang digunakan untuk menyatakan besarnya studi mahasiswa, besarnya pengakuan atas keberhasilan usaha mahasiswa, besarnya pengakuan atas keberhasilan kumulatif bagi suatu program tertentu, serta besarnya usaha untuk menyelenggarakan pendidikan bagi perguruan tinggi khususnya bagi tenaga pengajar.
Tujuan Sistem Kredit
Tujuan umum penerapan sistem kredit pada perguruan tinggi di Indonesia adalah agar perguruan tinggi dapat lebih memenuhi tuntutan pembangunan, karena didalamnya dimungkinkan penyajian program pendidikan yang bervariasi dan fleksibel, sehingga memberi kemungkinan lebih luas kepada mahasiswa untuk memilih program menuju suatu macam keahlian akademik atau keahlian professional tertentu yang dituntut oleh pembangunan.
Ciri-Ciri Sistem Kredit
Sistem kredit mempunyai cirri-ciri dasar:
1. Bahwa setiap mata kuliah harus diberi harga yang dinamakan nilai kredit.
2. Banyaknay nilai kredit untuk mata kuliah yang berlainan tidak perlu sama.
3. Banyaknya nilai kredit untuk masing-masing mata kuliah ditentukan besarnya usaha untuk menyelesaikan tugas-tugas yang dinyatakan dalam program perkuliahan praktikum, praktek kerja lapangan maupun tugas-tugas lain.
Sistem Semester
Semester adalah satuan waktu terkecil untuk menyatakan lamanya suatu program pendidikan dalam suatu jenjang pendidikan. Satu semester setara dengan 18 minggu kerja, yang terdiri 16 minggu untuk kuliah dan 2 minggu untuk ujian.
Sistem semester adalah sistem penyelenggaraan program pendidikan dengan menggunakan satuan waktu semester. Penyelenggaraan pendidikan dalam satu semester terdiri atas kegiatan perkuliahan teori, praktikum, kerja praktek/lapangan, tugas terstruktur, dan tugas mandiri.
Sistem Kredit Semester
Sistem kredit semester (SKS) adalah sistem penghargaan terhadap kegiatan akademik yang menggunakan satuan waktu semester. SKS bertujuan menyajikan program akademik yang bervariasi dan fleksibel, sehingga memberi keleluasaan mahasiswa memilih program studi. Dalam pelaksanaanya SKS untuk menyatakan besarnya beban studi kegiatan akademik mahasiswa dalam satuan waktu tertent ( semester ). Waktu / jam semester merupakan satuan waktu tatap muka yang diperlukan dalam satu minggu untuk satu semester, yang setara dengan 50 menit/sks.
Nilai Kredit Semester
Beban Studi Dalam Satu Semester
Besarnya beban studi mahasiswa dinyatakan dalam kredit semester suatu mata kuliah. Untuk mata kuliah teori dan untuk mata kuliah praktikum, penelitian, dan ker praktek. Dalam menentukan beban studi satu semester perlu juga diperhatikan kemampuan individu. Hal ini dapat dilihat dari hasil studi seorang mahasiswa pada semester yang lalu yang diukur dengan indeks prestasi dihitung sebagai berikut:
( K x NA )
IP =
K
Keterangan :
IP = Indeks Prestasi
K = Satuan kredit semester untuk setiap MK yang diprogram.
NA = Nilai masing-masing mata kuliah
Pada awal semester pertama mahasiswa baru diberikan beban belajar antara 18 – 22 SKS. Kemudian dengan IP yang diperoleh dapat diperhitungkan beban belajar pada semester berikutnya. Jumlah beban studi maksimal yang boleh diambil setiap mahasiswa semester berikutnya ditetapkan sebagai berikut :
Indek prestasi yang dicapai sebelumnya Maksimal beban studi yang bisa diprogramkan
< 1,49
1,50 – 1,99
2,00 – 2,49
2,50 – 2,99
> 3,00 12 sks
15 sks
18 sks
21 sks
24 sks
Beban Studi selama masa studi program S-1 pada Fakultas teknik adalah 155 sks. Dengan lama studi secara normal dapat diselesaikan 8 semester atau 4 tahun.
isd/ibd
DOSEN
POKOK BAHASAN : ISD/IBD
: SUJARWO,ST
: PENDUDUK & PERMASALAHANNYA
1. PENDAHULUAN
Sejarah perkembangan kebudayaan manusia selalu ditandai dengan munculnya letupan – letupan yang menjadi ciri khas sekaligus yang membedakan satu masa dengan masa berikutnya. Dasar dari gejolak itu adanya desakan keinginan dan kebutuhan manusia yang makin lama makin bertambah besar, sampai pada saat manuisa dihadapkan pada pencarian alternatif jawaban dari pertanyaan “ Bagaimana bertahan hidup dari populasi yang terus membengkak?”.
2. PENDUDUK DAN PERMASALAHANNYA
Keresahan dunia terhadap ledakan penduduk yang pesat bila dikaitkan dengan factor pendukung, yaitu :
a. Ketersediaan Sarana.
b. Sumber Daya
c. Iklim yang Kondusif.
Dapat dibayangkan bila jumlah penduduk dunia bertambah tanpa kendali sementara daya dukung tidak diperhatikan, maka akan menjadi ‘”Bumerang” , sebab akan mempermudah datangnya keresahan dan gejolak social bahkan bisa menjurus kearah timbulnya ketegangan antar individu.
Permasalahan – permasalahan yang terjadi saat ini meliputu :
a. Ketidakseimbangan antar sumber daya alam dengan jumlah penduduk.
b. Ketidaksamaan keadaan ekonomi antar negara satu dengan negara yang lain.
c. Keberatan pandangan agama antar agama satu dengan agama lain.
d. Rendahnya tingkat pendidikan dinegara negara berkembang.
e. Perbedaan budaya yang beraneka ragam.
3. PENDUDUK INDONESIA
Permasalahan kependudukan juga menghantui Indonesia sebagai negara berkembang yang sedang giat – giatnya membangun. Di Indonesia penyebab yang mendorong terjadinya problem kependudukan baik secara kuntitatif maupun kualitatif , antara lain :
a. Kemajuan dibidang ilmu pengetahuan dan teknologi .
b. Hasrat manusia yang selalu ingin memperoleh kondisi yang lebih baik.
c. Keterbatasan kemampuan dukungan sumber daya alam.
d. Keamanan dan kesetabilan negara.
Masalah Kependudukan Kuantitatif.
-, Tingkat pertumbuhan pendudk ditentutkan oleh 3 faktor yakni :
• Fertilitas
• Mortalitas
• Migrasi
-, Penyebaran penduduk yang tidak merata.
Ditandai dengan besarnya jumlah penduduk yang bermukim di jawa, sehingga lebih dari 2/3 penduduk Indonesia bermukim di jawa.
-, Komposisi penduduk yang tidak menguntungkan.
Akibat tingginya tingkat kelahiran sehingga besarnya prosentase golongan penduduk muda, yang mengakibatkan banyaknya angka ketergantungan bagi tenaga kerja produktif ditambah oleh penduduk yang telah berusia lanjut.
Masalah – masalah Kualitatif
-, Kebutuhan Pangan.
-, Tingkat pendidikan penduduk
-, Tingkat pelayanan kesehatan
-, Perumahan
-, Pendapatan Perkapita.
-, Kelestarian lingkungan dan sumber daya alam
-, Tenaga Kerja
MATA KULIAH
DOSEN
POKOK BAHASAN : ISD/IBD
: SUJARWO,ST
: MASYARAKAT DAN KEBUDAYAAN
Masyarakat dan kebudayaan ibarat dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Kebudayaan adalah seuatu yang kompleks yang mengatur pengetahuan, kepercayan, kesenian, moral, hokum, adat istiadat serta kebiasaan – kebiasaan yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat. Kebuadayaan dapat dipandang sebagai cara hidup ( way of life ).
Unsur – unsure Kebudayaan Universal.
Kebudayaan universal merupakan unsure – unsure dibagi menjadi 7 unsur, yaitu :
1. Peralatan dan perlengkapan hidup manuisa.
2. mata pencaharian hidup dan system ekonomi.
3. Sistem kemasyarakatan.
4. bahasa
5. Kesenian
6. system pengetahuan
7. Religi ( system kepercayaan )
A. Definisi Masyarakat
Dalam Bahasa Inggris disebut Society, asal katanya Socius yang berarti “kawan”. Kata “Masyarakat” berasal dari bahasa Arab, yaitu Syiek, artinya “bergaul”. Adanya saling bergaul ini tentu karena ada bentuk – bentuk akhiran hidup, yang bukan disebabkan oleh manusia sebagai pribadi melainkan oleh unsur – unsur kekuatan lain dalam lingkungan sosial yang merupakan kesatuan
B. Masyarakat Pedesaan (masyarakat tradisional)
a. Pengertian desa/pedesaan
Yang dimaksud dengan desa menurut Sutardjo Kartodikusuma mengemukakan sebagai berikut: Desa adalah suatu kesatuan hukum dimana bertempat tinggal suatu masyarakat pemerintahan tersendiri
Menurut Bintaro, desa merupakan perwujudan atau kesatuan goegrafi ,sosial, ekonomi, politik dan kultur yang terdapat ditempat itu (suatu daerah), dalam hubungan dan pengaruhnya secara timbal balik dengan daerah lain.
Sedang menurut Paul H. Landis :Desa adalah pendudunya kurang dari 2.500 jiwa. Dengan ciri ciri sebagai berikut :
a) mempunyai pergaulan hidup yang saling kenal mengenal antara ribuan jiwa.
b) Ada pertalian perasaan yang sama tentang kesukaan terhadap kebiasaan
c) Cara berusaha (ekonomi)adalah agraris yang paling umum yang sangat dipengaruhi alam seperti : iklim, keadaan alam ,kekayaan alam, sedangkan pekerjaan yang bukan agraris adalah bersifat sambilan
Dalam kamus sosiologi kata tradisional dari bahasa Inggris, Tradition artinya Adat istiadat dan kepercayaan yang turun menurun dipelihara, dan ada beberapa pendapat yang ditinjau dari berbagai segi bahwa, pengertian desa itu sendiri mengandung kompleksitas yang saling berkaitan satu sama lain diantara unsur-unsurnya, yang sebenarnya desa masih dianggap sebagai standar dan pemelihara sistem kehidupan bermasyarakat dan kebudayaan asli seperti tolong menolong, keguyuban, persaudaraan, gotong royong, kepribadian dalam berpakaian, adat istiadat , kesenian kehidupan moral susila dan lain-lain yang mempunyai ciri yang jelas.
Dalam UU Nomor 32 Tahun 2004 disebutkan pengertian desa sebagai kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah, yang berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat, berdasarkan asal-usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam system pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Dari defenisi tersebut, sebetulnya desa merupakan bagian vital bagi keberadaan bangsa Indonesia. Vital karena desa merupakan satuan terkecil dari bangsa ini yang menunjukkan keragaman Indonesia. Selama ini terbukti keragaman tersebut telah menjadi kekuatan penyokong bagi tegak dan eksisnya bangsa. Dengan demikian penguatan desa menjadi hal yang tak bisa ditawar dan tak bisa dipisahkan dari pembangunan bangsa ini secara menyeluruh.
Memang hampir semua kebijakan pemerintah yang berkenaan dengan pembangunan desa mengedepankan sederet tujuan mulia, seperti mengentaskan rakyat miskin, mengubah wajah fisik desa, meningkatkan pendapatan dan taraf hidup masyarakat, memberikan layanan social desa, hingga memperdayakan masyarakat dan membuat pemerintahan desa lebih modern. Sayangnya sederet tujuan tersebut mandek diatas kertas.
Karena pada kenyataannya desa sekedar dijadikan obyek pembangunan, yang keuntungannya direguk oleh actor yang melaksanakan pembangunan di desa tersebut : bisa elite kabupaten, provinsi, bahkan pusat. Di desa, pembangunan fisik menjadi indicator keberhasilan pembangunan. Karena itu, Program Pengembangan Kecamatan (PPK) yang ada sejak tahun 2000 dan secara teoritis memberi kesempatan pada desa untuk menentukan arah pembangunan dengan menggunakan dana PPK, orientasi penggunaan dananyapun lebih untuk pembangunan fisik. Bahkan, di Sumenep (Madura), karena kuatnya peran kepala desa (disana disebut klebun) dalam mengarahkan dana PPK untuk pembangunan fisik semata, istilah PPK sering dipelesetkan menjadi proyek para klebun.
Menyimak realitas diatas, memang benar bahwa yang selama ini terjadi sesungguhnya adalah “Pembangunan di desa” dan bukan pembangunan untuk, dari dan oleh desa. Desa adalah unsur bagi tegak dan eksisnya sebuah bangsa (nation) bernama Indonesia.
Kalaupun derap pembangunan merupakan sebuah program yang diterapkan sampai kedesa-desa, alangkah baiknya jika menerapkan konsep :”Membangun desa, menumbuhkan kota”. Konsep ini, meski sudah sering dilontarkan oleh banyak kalangan,
tetapi belum dituangkan ke dalam buku yang khusus dan lengkap. Inilah tantangan yang harus segera dijawab.
b. Ciri-ciri Masyarakat desa (karakteristik)
Dalam buku Sosiologi karangan Ruman Sumadilaga seorang ahli Sosiologi “Talcot Parsons” menggambarkan masyarakat desa sebagai masyarakat tradisional (Gemeinschaft) yang mebngenal ciri-ciri sebagai berikut :
a. Afektifitas ada hubungannya dengan perasaan kasih sayang, cinta , kesetiaan dan kemesraan. Perwujudannya dalam sikap dan perbuatan tolong menolong, menyatakan simpati terhadap musibah yang diderita orang lain dan menolongnya tanpa pamrih.
b. Orientasi kolektif sifat ini merupakan konsekuensi dari Afektifitas, yaitu mereka mementingkan kebersamaan , tidak suka menonjolkan diri, tidak suka akan orang yang berbeda pendapat, intinya semua harus memperlihatkan keseragaman persamaan.
c. Partikularisme pada dasarnya adalah semua hal yang ada hubungannya dengan keberlakuan khusus untuk suatu tempat atau daerah tertentu. Perasaan subyektif, perasaan kebersamaan sesungguhnya yang hanya berlaku untuk kelompok tertentu saja.(lawannya Universalisme)
d. Askripsi yaitu berhubungan dengan mutu atau sifat khusus yang tidak diperoleh berdasarkan suatu usaha yang tidak disengaja, tetapi merupakan suatu keadaan yang sudah merupakan kebiasaan atau keturunan.(lawanya prestasi).
e. Kekabaran (diffuseness). Sesuatu yang tidak jelas terutama dalam hubungan antara pribadi tanpa ketegasan yang dinyatakan eksplisit. Masyarakat desa menggunakan bahasa tidak langsung, untuk menunjukkan sesuatu. Dari uraian tersebut (pendapat Talcott Parson) dapat terlihat pada desa-desa yang masih murni masyarakatnya tanpa pengaruh dari luar.
C. Masyarakat Perkotaan
a. Pengertian Kota
Seperti halnya desa, kota juga mempunyai pengertian yang bermacam-macam seperti pendapat beberapa ahli berikut ini.
i. Wirth
Kota adalah suatu pemilihan yang cukup besar, padat dan permanen, dihuni oleh orang-orang yang heterogen kedudukan sosialnya.
ii. Max Weber
Kota menurutnya, apabila penghuni setempatnya dapat memenuhi sebagian besar kebutuhan ekonominya dipasar lokal.
iii. Dwigth Sanderson
Kota ialah tempat yang berpenduduk sepuluh ribu orang atau lebih.
Dari beberapa pendapat secara umum dapat dikatakan mempunyani ciri-ciri mendasar yang sama. Pengertian kota dapat dikenakan pada daerah atau lingkungan komunitas tertentu dengan tingkatan dalam struktur pemerintahan.
Menurut konsep Sosiologik sebagian Jakarta dapat disebut Kota, karena memang gaya hidupnya yang cenderung bersifat individualistik. Marilah sekarang kita meminjam lagi teori Talcott Parsons mengenai tipe masyarakat kota yang diantaranya mempunyai ciri-ciri :
a). Netral Afektif
Masyarakat Kota memperlihatkan sifat yang lebih mementingkat Rasionalitas dan sifat rasional ini erat hubungannya dengan konsep Gesellschaft atau Association. Mereka tidak mau mencampuradukan hal-hal yang bersifat emosional atau yang menyangkut perasaan pada umumnya dengan hal-hal yang bersifat rasional, itulah sebabnya tipe masyarakat itu disebut netral dalam perasaannya.
b). Orientasi Diri
Manusia dengan kekuatannya sendiri harus dapat mempertahankan dirinya sendiri, pada umumnya dikota tetangga itu bukan orang yang mempunyai hubungan kekeluargaan dengan kita oleh karena itu setiap orang dikota terbiasa hidup tanpa menggantungkan diri pada orang lain, mereka cenderung untuk individualistik.
c). Universalisme
Berhubungan dengan semua hal yang berlaku umum, oleh karena itu pemikiran rasional merupakan dasar yang sangat penting untuk Universalisme.
d). Prestasi
Mutu atau prestasi seseorang akan dapat menyebabkan orang itu diterima berdasarkan kepandaian atau keahlian yang dimilikinya.
e). Heterogenitas
Masyarakat kota lebih memperlihatkan sifat Heterogen, artinya terdiri dari lebih banyak komponen dalam susunan penduduknya.
b. Ciri-ciri masyarakat Perkotaan
Ada beberapa ciri yang menonjol pada masyarakat perkotaan, yaitu :
i. Kehidupan keagamaannya berkurang, kadangkala tidak terlalu dipikirkan karena memang kehidupan yang cenderung kearah keduniaan saja.
ii. Orang kota pada umumnya dapat mengurus dirinya sendiri tanpa harus berdantung pada orang lain (Individualisme).
iii. Pembagian kerja diantara warga-warga kota juga lebih tegas dan mempunyai batas-batas yang nyata.
iv. Kemungkinan-kemungkinan untuk mendapatkan pekerjaan juga lebih banyak diperoleh warga kota.
v. Jalan kehidupan yang cepat dikota-kota, mengakibatkan pentingnya faktor waktu bagi warga kota, sehingga pembagian waktu yang teliti sangat penting, intuk dapat mengejar kebutuhan-kebutuhan seorang individu.
vi. Perubahan-perubahan tampak nyata dikota-kota, sebab kota-kota biasanya terbuka dalam menerima pengaruh-pengaruh dari luar.
D. Perbedaan antara desa dan kota
Dalam masyarakat modern, sering dibedakan antara masyarakat pedesaan (rural community) dan masyarakat perkotaan (urban community). Menurut Soekanto (1994), per-bedaan tersebut sebenarnya tidak mempunyai hubungan dengan pengertian masyarakat sederhana, karena dalam masyarakat modern, betapa pun kecilnya suatu desa, pasti ada pengaruh-pengaruh dari kota. Perbedaan masyarakat pedesaan dan masyarakat perkotaan, pada hakekatnya bersifat gradual.
Kita dapat membedakan antara masya-rakat desa dan masyarakat kota yang masing-masing punya karakteristik tersendiri. Masing-masing punya sistem yang mandiri, dengan fungsi-fungsi sosial, struktur serta proses-proses sosial yang sangat berbeda, bahkan kadang-kadang dikatakan "berlawanan" pula. Perbedaan ciri antara kedua sistem tersebut dapat diungkapkan secara singkat menurut Poplin (1972) sebagai berikut:
Masyarakat Pedesaan Masyarakat Kota
Perilaku homogen
Perilaku yang dilandasi oleh konsep kekeluargaan dan kebersamaan
Perilaku yang berorientasi pada tradisi dan status
Isolasi sosial, sehingga statik
Kesatuan dan keutuhan kultural
Banyak ritual dan nilai-nilai sakral
Kolektivisme Perilaku heterogen
Perilaku yang dilandasi oleh konsep pengandalan diri dan kelembagaan
Perilaku yang berorientasi pada rasionalitas dan fungsi
Mobilitas sosial, sehingga dinamik
Kebauran dan diversifikasi kultural
Birokrasi fungsional dan nilai-nilai sekular Individualisme
Warga suatu masyarakat pedesaan mempunyai hubungan yang lebih erat dan lebih mendalam ketimbang hubungan mereka dengan warga masyarakat pedesaan lainnya. Sistem kehidupan biasanya berkelompok atas dasar sistem kekeluargaan (Soekanto, 1994). Selanjutnya Pudjiwati (1985), menjelaskan ciri-ciri relasi sosial yang ada di desa itu, adalah pertama-tama, hubungan kekerabatan. Sistem kekerabatan dan kelompok kekerabatan masih memegang peranan penting. Penduduk masyarakat pedesaan pada umumnya hidup dari pertanian, walaupun terlihat adanya tukang kayu, tukang genteng dan bata, tukang membuat gula, akan tetapi inti pekerjaan penduduk adalah pertanian. Pekerjaan-pekerjaan di samping pertanian, hanya merupakan pekerjaan sambilan saja .
Golongan orang-orang tua pada masyarakat pedesaan umumnya memegang peranan penting. Orang akan selalu meminta nasihat kepada mereka apabila ada kesulitan-kesulitan yang dihadapi. Nimpoeno (1992) menyatakan bahwa di daerah pedesaan kekuasaan-kekuasaan pada umumnya terpusat pada individu seorang kiyai, ajengan, lurah dan sebagainya.
Ada beberapa ciri yang dapat dipergunakan sebagai petunjuk untuk membedakan antara desa dan kota. Dengan melihat perbedaan perbedaan yang ada mudah mudahan akan dapat mengurangi kesulitan dalam menentukan apakah suatu masyarakat dapat disebut sebagi masyarakat pedeasaan atau masyarakat perkotaan.
Ciri ciri tersebut antara lain :
1) jumlah dan kepadatan penduduk
2) lingkungan hidup
3) mata pencaharian
4) corak kehidupan sosial
5) stratifiksi sosial
6) mobilitas sosial
7) pola interaksi sosial
8) solidaritas sosial
9) kedudukan dalam hierarki sistem administrasi nasional
E. Hubungan Desa-kota, hubungan pedesaan-perkotaan.
Masyarakat pedesaan dan perkotaan bukanlah dua komonitas yang terpisah sama sekali satu sama lain. Bahkan dalam keadaan yang wajar diantara keduanya terdapat hubungan yang erat. Bersifat ketergantungan, karena diantara mereka saling membutuhkan. Kota tergantung pada dalam memenuhi kebutuhan warganya akan bahan bahan pangan seperti beras sayur mayur , daging dan ikan. Desa juga merupakan sumber tenaga kasar bagi bagi jenis jenis pekerjaan tertentu dikota. Misalnya saja buruh bangunan dalam proyek proyek perumahan. Proyek pembangunan atau perbaikan jalan raya atau jembatan dan tukang becak. Mereka ini biasanya adalah pekerja pekerja musiman. Pada saat musim tanam mereka, sibuk bekerja di sawah. Bila pekerjaan dibidang pertanian mulai menyurut, sementara menunggu masa panen mereka merantau ke kota terdekat untuk melakukan pekerjaan apa saja yang tersedia.
“Interface”, dapat diartikan adanya kawasan perkotaan yang tumpang-tindih dengan kawasan perdesaan, nampaknya persoalan tersebut sederhana, bukankah telah ada alat transportasi, pelayanan kesehatan, fasilitas pendidikan, pasar, dan rumah makan dan lain sebagainya, yang mempertemukan kebutuhan serta sifat kedesaan dan kekotaan.
Hubungan kota-desa cenderung terjadi secara alami yaitu yang kuat akan menang, karena itu dalam hubungan desa-kota, makin besar suatu kota makin berpengaruh dan makin menentukan kehidupan perdesaan.
Secara teoristik, kota merubah atau paling mempengaruhi desa melalui beberapa caar, seperti: (i) Ekspansi kota ke desa, atau boleh dibilang perluasan kawasan perkotaan dengan merubah atau mengambil kawasan perdesaan. Ini terjadi di semua kawasan perkotaan dengan besaran dan kecepatan yang beraneka ragam; (ii) Invasi kota , pembangunan kota baru seperti misalnya Batam dan banyak kota baru sekitar Jakarta merubah perdesaan menjadi perkotaan. Sifat kedesaan lenyap atau hilang dan sepenuhnya diganti dengan perkotaan; (iii) Penetrasi kota ke desa, masuknya produk, prilaku dan nilai kekotaan ke desa. Proses ini yang sesungguhnya banyak terjadi; (iv) ko-operasi kota-desa, pada umumnya berupa pengangkatan produk yang bersifat kedesaan ke kota. Dari keempat hubungan desa-kota tersebut kesemuanya diprakarsai pihak dan orang kota. Proses sebaliknya hampir tidak pernah terjadi, oleh karena itulah berbagai permasalahan dan gagasan yang dikembangkan pada umumnya dikaitkan dalam kehidupan dunia yang memang akan mengkota.
Salah satu bentuk hubungan antara kota dan desa adalah :
a). Urbanisasi dan Urbanisme
Dengan adanya hubungan Masyarakat Desa dan Kota yang saling ketergantungan dan saling membutuhkan tersebut maka timbulah masalah baru yakni ; Urbanisasi yaitu suatu proses berpindahnya penduduk dari desa ke kota atau dapat pula dikatakan bahwa urbanisasi merupakan proses terjadinya masyarakat perkotaan. (soekanto,1969:123 ).
b) Sebab-sebab Urbanisasi
1.) Faktor-faktor yang mendorong penduduk desa untuk meninggalkan daerah kediamannya (Push factors)
2.) Faktor-faktor yang ada dikota yang menarik penduduk desa untuk pindah dan menetap dikota (pull factors)
• Hal – hal yang termasuk push factor antara lain :
a. Bertambahnya penduduk sehingga tidak seimbang dengan persediaan lahan pertanian,
b. Terdesaknya kerajinan rumah di desa oleh produk industri modern.
c. Penduduk desa, terutama kaum muda, merasa tertekan oleh oleh adat istiadat yang ketat sehingga mengakibatkan suatu cara hidup yang monoton.
d. Didesa tidak banyak kesempatan untuk menambah ilmu pengetahuan.
e. Kegagalan panen yang disebabkan oleh berbagai hal, seperti banjir, serangan hama, kemarau panjang, dsb. Sehingga memaksa penduduk desa untuk mencari penghidupan lain dikota.
• Hal – hal yang termasuk pull factor antara lain :
a. Penduduk desa kebanyakan beranggapan bahwa dikota banyak pekerjaan dan lebih mudah untuk mendapatkan penghasilan
b. Dikota lebih banyak kesempatan untuk mengembangkan usaha kerajinan rumah menjadi industri kerajinan.
c. Pendidikan terutama pendidikan lanjutan, lebih banyak dikota dan lebih mudah didapat.
d. Kota dianggap mempunyai tingkat kebudayaan yang lebih tinggi dan merupakan tempat pergaulan dengan segala macam kultur manusianya.
e. Kota memberi kesempatan untuk menghindarkan diri dari kontrol sosial yang ketat atau untuk mengangkat diri dari posisi sosial yang rendah ( Soekanti, 1969 : 124-125 ).
Sabtu, 31 Januari 2009
NIAT
Islam adalah agama yang tidak pernah mengajarkan adanya pekerjaan sia-sia, sehingga tidak satu pekerjaan pun yang boleh dilakukan setengah hati. Setiap pekerjaan harus diselesaikan secara serius dengan metodologi dan orientasi yang jelas. Dalam Islam, semua kerja/amal memiliki nilai dan akan dicatat sebagi ibadah dihadapan Allah.
Karena itu tidak ada pekerjaan yang dilakukan tanpa niat dan perencanaan yang jelas. Niat dalam khazanah ilmu fiqih disebut sebagai pemicu ruh dan inti ibadah. Niat menjadi tolok ukur diterima tidaknya ibadah seorang hamba. Rosulullah saw. bersabda: “ Sesungguhnya nilai setiap pekerjaan tergantung pada niat yang mendahuluinya”. (HR. Bukhori). Suatu amal yang tidak didasari niat yang benar dianggap tidak bernilai. Sebab terdapat dua kemungkinan bagi seseorang yang mengerjakan suatu perbuatan. Pertama, ada orang yang mengerjakan perbuatan tanpa tujuan, tanpa aturan sebagaimana layaknya robot atau mesin. Kedua, ada yang melakukan suatu perbuatan dengan penuh kesadaran dan memiliki tujuan yang jelas. Niatlah yang akan mengantarkan seseorang agar memasuki kelompok kedua.
Seorang ulama Sayyid al-Barwajradi menyatakan bahwa niat tidak cukup kalau hanya dijadikan sebagai motivasi dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah semata, tetapi lebih jauh ia harus disertai dengan kesadaran akan makna yang terkandung dalam niat itu sendiri. Hal itu berarti niat tidak hanya berada di dalam hati dan terucap di saat kita sedang memulai pekerjaan lalu ditengah bekerja niat berubah atau bahkan dilupakan, tetapi niat harus tetap mengawal dan sekaligus menjadi kontrol berjalannya setiap pekerjaan. Karenanya, meletakkan niat diawal setiap pekerjaan bertujuan agar niat dapat mendampingi si pelaku sejak awal hingga akhir dari suatu pekerjaan.
Begitu tingginya posisi niat pada setiap pekerjaan, maka dalam ibadah shalatpun niat menjdi rukun yang tanpanya shalat tidak sah. Lebih jauh kewajiban berniat telah terdapat pada wudlu’, dimana ia menjadi rukun pertama pelaksanaan wudlu’. Wudlu’ yang dikerjakan harus diawali dengan niat yang bersih dan sempurna, dan hal tersebut akan berimplikasi pada pelaksanaan shalat yang kurang sempurna. Niat dalam wudlu harus terintegrasi sejak awal selanjutnya ketika membersihkan sejumlah anggota badan mulai dari membasuh wajah, hingga mencuci kedua kaki. Hal tersebut karena wudlu yang sempurna diyakini akan melahirkan shalat yang sempurna dan kesempurnaannya sangat ditentukan oleh kesungguhan dalam berniat.
Untuk itu pentingnya niat dalam berwudlu’ sebagaimana pentingnya niat di dalam shalat. Niat di dalam shalat berfungsi sebagai ikrar bahwa amal yang dikerjakan akan diselesaikan dengan sepenuh hati, penuh kesadaran, dan kesungguhan,dan tidak lalai di tengah mengerjakannya. Seolah posisi niat dalam shalat dapat dilihat setara dengan perencanaan dalam suatu proyek atau pekerjaan. Seorang yang shalat dan tidak memantapkan niatnya maka ia sama dengan seorang pengusaha yang akan mengemban atau menerima tender suatu proyek namun tidak memiliki perencanaan yang jelas. Atau seorang pejabat yang dilantik tanpa visi dan misi yang jelas.
Pendeknya, niat merupakan kunci dengannya pintu yang menghubungkan seorang hamba dengan Tuhan akan tersingkap sehingga ibadah yang dilakukan dapat diterima sebagai bentuk pengabdian. Disamping itu, niat juga menjadi perjanjian seorang hamba dengan dirinya bahwa ia akan menjaga komitmen dan konsentrasinya selama melaksanakan suatu pekerjaan. Itulah sebabnya niat mensyaratkan ketulusan, keseriusan, dan keikhlasan baik terhadap diri maupun terhadap Allah agar ia dapat menjadi ruh yang menggerakkan dan seorang hamba untuk melaksanakan setiap amalannya dengan sempurna.
Agar niat benar-benar berfungsi sebagai ruhnya ibadah perlu diperhatikan rukun niat sebagai berikut : Pertama, melalui niat, seseorang harus mampu menghadirkan jiwa agar dalam mengerjakan amal penuh dengan kesadaran dan kesungguhan. Hal tersebut karena setiap pekerjaan harus disertai dengan kesengajaan, penuh kesadaran, kesungguhan, bukan karena hanya didasarkan pada kebiasaan. Kedua, niat harus diselimuti dengan keikhlasan. Sebab keikhlasanlah yang akan menjadi fondasi dan penentu orientasi suatu pekerjaan.
Niat itu bersemayam di dalam hati dan bertujuan untuk merealisasikan perintah Allah dengan mengabdikan diri kepada-Nya tanpa ada perubahan atau penyimpangan, maka kita pun harus shalat sebagaimana Rasulullah saw. shalat.
Memang sepatutnya untuk menjadikan niat semata-mata ikhlas karena Allah tanpa diliputi kepalsuan apapun, perlu memahami apa hakikat niat tersebut dan bagaimana cara meletakkannya dalam setiap amal perbuatan yang kita lakukan. Adalah sudah jelas bahwa setiap amalan harus dimulai dengan niat.
Dalam kaitannya dengan kehidupan sehari-hari pentingnya niat merupakan isyarat akan urgensi kesucian hati dalam mengawali setiap pekerjaan. Memulai pekerjaan dengan hati yang kotor tentu berpengaruh pada semangat dan motivasi kerja yang kita miliki. Jika suatu pekerjaan diawali denga hati yang kurang bersih, maka hati akan mudah disisipi oleh bisikan-bisikan setan yang pada akhirnya mengganggu konsentrasi selama pelaksanaan pekerjaan. Karenanya niat atau kesucian hati harus ditanamkan sejak berangkat dari rumah hingga ke tempat kerja. Menanamkan niat yang benar harus dimulai sejak berada di dalam rumah, sebab niat inilah yang akan mengawal semua pekerjaan yang akan dilaksanakan di luar rumah. Apabila niat yang dibangun ketika di rumah benar, maka apapun yang dilaksanakan selama di luar rumah akan menjadi benar. Sebab niat bukan hanya membangun komitmen pada saat diucapkan, tetapi lebih jauh ia harus tetap membahan dalam hati dan menjadi tolok ukur pelaksanaan dan hasil suatu pekerjaan.
Niat mengandung perencanaan vertikal tujuan penghambaan dan konsentrasi horizontal. Hal ini menjadi suatu isyarat bahwa perencanaan tidaklah hanya dilandaskan pada perhitungan material saja, tetapi kepada nilai-nilai spiritual.perencanaan adalah pengomunikasian proses dan tujuan baik secara fisik maupun rohani secara vertikal kepada Allah dan kepada sesama. Komunikasi dengan Allah bertujuan agar setiap amal terhindar dari kemurkaan Allah dan ditempatkan sebagai perwujudan ibadah atau penghambaan. Sementara komunikasi dengan sesama bertujuan agar setiap amal dapat berorientasi ukhuwah dan kemaslahatan. Belajar dari hal ini hendaknya perencanaan memiliki dua arah melihat pertimbangan ketuhanan bahwa setiap kerja adalah ibadah dan karenanya persiapan dan pelaksanaannya adalah sebagai ibadah, dan untuk itu memiliki sejumlah aturan dan syarat yang kesemuanya dapat dirujuk pada aturan syar’i. Selanjutnya perencanaan horizontal bahwa setiap pekerjaan adalah untuk meningkatkan kemaslahatan, karenanya pelaksanaan dan aktualisasinya adalah untuk kemaslahatan bersama.
Sumber : Shalat Yang Benar : Jefry Noer
manajemen umum
DOSEN
POKOK BAHASAN : MANAJEMEN UMUM
: SUJARWO,ST
: PERENCANAAN ( PLANNING )
1. PENGERTIAN
Rencana adalah Suatu kegiatan yang hendak dicapai / dituju dalam periode tertentu.
Perencanaan adalah Proses untuk mencapai suatu rencana.
2. KEGUNAAN PERENCANAAN
- Sebagai pedoman kegiatan
- Sebagai dasar pengarah kegiatan
- Sebagai pembatas kegiatan
- Sebagai alat komunikasi kegiatan
- Dasar pengambilan keputusan
3. DASAR – DASAR PERENCANAAN
- Pengalaman periode yang lalu ( Dimensi waktu yang lalu )
- Pengalaman kejadian yang sedang berjalan ( Dimensi waktu sekarang )
- Pengalaman waktu yang akan datang ( Dimensi waktu yang akan datang )
4. SIFAT – SIFAT PERENCANAAN
- Realistis / rasional / factual.
- Fleksibel
- Kontinyu / terus menerus
5. PROSES PERENCANAAN
Langkah – langkah dalam penyusunan perencanaan, adalah
- Ide / gagasan
- Pra studi
- Studi / penelitian ( proses pengumpulan data / informasi )
- Penyusunan perencanaan
6. SUMBER – SUMBER DATA
- Sumber dari dalam
- Sumber dari luar
7. MACAM – MACAM / JENIS – JENIS PERENCANAAN
- Menurut waktu :
a. Perencanaan jangka pendek ( Operasional )
b. Perencanaan jangka menengah ( strategis )
c. Perencanaan jangka panjang ( strategis )
- Menurut Penggunaan :
a. Single Used
b. Repeated Used
c. Permanent Used
- Menurut Proses :
a. Policy
b. Program
c. Operating
- Menurut Ruang lingkup :
a. Parsial / bagian
b. Menyeluruh / Comprehenshive
- Menurut Fungsi Kegiatan :
a. Operasional
b. Non Operasional
- Menurut Wilayah
a. Internasonal
b. Nasional
c. Regional
d. Lokal
- Menurut Fungsi dalam Organisasi
a. Keuangan
b. Administrasi
c. Produksi
d. SDM
e. Market
MATA KULIAH
DOSEN
POKOK BAHASAN : MANAJEMEN UMUM
: SUJARWO,ST
: PENGORGANISASIAN (ORGANIZING )
1. PENGERTIAN
Organisasi adalah hubungan kerjasama antar orang – orang untuk mencapai tujuan tertentu.
Pengorganisasian adalah proses penyusunan struktur organisasi sesuai dengan tujuan organisasi berdasarkan sumber daya yang dimilikinya hingga mereka dapat bekerja sama secara efektif dan efisien untuk memperoleh kepuasan pribadi guna mencapai tujuan sasaran tertentu.
2. KEGUNAAN PENGORGANISASIAN
Pengorganisasian berguna sebagai :
a. Dasar-dasar pedoman kegiatan
b. Petunjuk kegiatan
c. Jalur pelaporan
d. Pembagian tugas
e. Untuk mengetahui tugas dan tanggung jawab tiap-tiap kelompok dan pimpinan.
3. UNSUR – UNSUR PENGORGANISASIAN
Mengorganisir adalah kegiatan mengatur unsur – unsur sumber daya yang meliputi :
a. Tenaga kerja
b. Tenaga ahli
c. Peralatan
d. Material
e. Dana
f. Dan lain-lain.
4. PROSES MENGORGANISIR
Langkah – langkah dalam mengorganisir adalah :
a. Melakukan identifikasi pekerjaan
b. Melakukan Klasifikasi pekerjaan
c. Menyiapkan tenaga yang akan menangani pekerjaan.
d. Mengetahui wewenang dan tanggung jawab, serta mampu melakukan pekerjaan.
e. Menyusun mekanisme koordinasi.
5. STRUKTUR ORGANISASI
Struktur organisasi sebagai mekanisme formal dengan manajemen organisasi yang dikelola.
Struktur organisasi menunjukan kerangka dan susunan perwujudan pola tetap hubungan – hubungan diantara fungsi – fungsi, bagian – bagian atau posisi – posisi yang menunjukan kedudukan, tugas dan wewenang dan tanggung jawab yang berbeda – beda dalam suatu organisasi.
Struktur organisasi mengandung unsur – unsur spesialisasi kerja, standarisasi, koordinasi, sentralisasi atau disentralisasi dalam pembuatan keputusan dalam satuan kerja.
Struktur organisasi menunjukan hal – hal sebagai berikut :
a. Pokok – pokok kegiatan organisasi.
b. Pembagian menjadi kelompok atau sub sistem.
c. Adanya hirarki, wewenang dan tanggung jawab bagi kelompok dan pimpinan.
d. Pengaturan kerja sama.
e. Jalur pelaporan dan komunikasi, baik jalur vertical maupun horizontal.
Faktor – faktor utama yang menetukan perancangan struktur organisasi adalah :
a. Strategi organisasi dalam mencapai tujuan.
b. Teknologi yang digunakan.
c. Sumber daya manusia yang terlibat dalam organisasi itu.
d. Ukuran organisasi.
MATA KULIAH
DOSEN
POKOK BAHASAN : MANAJEMEN UMUM
: SUJARWO,ST
: PELAKSANAAN ( ACTUATING )
A. STAFFING
Staffing adalah Pengisian personil yang ditekankan kepada usaha terbentuknya suatu tim yang dapat bekerja sama secara terpadu dan efektif.
Hal ini merupakan tugas dan tanggung jawab utama seorang pemimpin organisasi. Dan untuk dapat menciptakan kerja sam tim dengan komunikasi dan interaksi antara para anggota, sehingga para anggota diharapkan :
a. mengetahui peranannya dalam tim
b. setiap anggota merasa saling diperlukan
c. anggota merasa bahwa kerja sama tim yang baik akan menghasilkan sesuatu yang lebih besar daripada bekerja sendiri – sendiri.
1. Cara –cara untuk meningkatkan kerjasama yang baik
a. komunikasi
b. interaksi
c. pembinaan yang efektif
2. Faktor – factor yang mendorong kerjasam tim, yaitu :
a. secara profesional pekerjaan menarik dan merangsang.
b. Pengakuan terhadap hasil kerja.
c. Pimpinan yang berpengalaman dibidangnya.
d. Penanganan yang benar dalam kepemimpinan dan adanya petunjuk yang jelas.
e. Personil tim yang berkualitas.
f. Potensi jenjang professional.
3. Factor – factor yang menghambat kerja sama tim, yaitu :
a. sasaran dan pengarahan yang tidak jelas.
b. Tidak cukup sumber daya.
c. Terjadi banyak konflik.
d. Tidak cukup perhatian dan kepedulian dari pimpinan.
e. Jaminan kerja yang tidak jelas.
f. Tujuan dan prioritas yang sering berubah – berubah.
4. Faktor – factor yang mempengaruhi prestasi kerja, adalah :
a. Faktor lingkungan baik internal maupun eksternal.
b. Gaya kepimimpinan
c. Faktor – factor dorongan dan hambatan kerja sama.
B. DIRECTING
Directing adalah tahap implementasi, yaitu tahap pengelolaan perncanaan untuk menuju sasaran atau tujuan.
1. Mengelola implementasi administrasi dan keuangan, yaitu :
a. administrasi konseptual
b. akuntansi
c. administrasi utang piutang
d. adminstrasi asset
e. surat – menyurat
f. persiapan audit
g. konrol pembayaran
h. dan lain – lain
2. Mengelola implementasi fisik, yaitu dengan cara :
a. Mobilisasi/ koordinasi sumber daya
b. Engineering, pembelian, pabrikasi, konstruksi dan lain – lain atau bekerja sesuai tugas masing – masing bagian.
c. Uji coba pra-operasi
d. implementasi
e. Inspeksi dan tes
MATA KULIAH
DOSEN
POKOK BAHASAN : MANAJEMEN UMUM
: SUJARWO,ST
: PENGENDALIAN & PENGAWASAN (CONTROLLING )
1. PENGERTIAN
Pengendalian / Pengawasan adalah proses mengarahkan seperangkat variable / unsure ( manusia, peralatan, mesin, organisasi ) kearah tercapainya suatu tujuan atau sasaran manajemen.
Pengendalian dan pengawasan diperlukan untuk mengetahui apakah pelaksanaan suatu kegiatan dalam organisasi sesuai dengan rencana dan tujuan yang telah digariskan atau ditetapkan.
2. FUNGSI DAN TUJUAN
Fungsi dan Tujuan dilaksanakan pengawasan adalah :
a. untuk menjadikan pelaksanaan dan hasil kegiatan sesuai dengan rencana dan tujuan.
b. Untuk memecahkan masalah
c. Untuk mengurangui resiko kegagalan suatu rencana
d. Untuk membuat perubahan – perubahan maupun perbaikan – perbaikan.
e. Untuk mengetahui kelemahan – kelemahan pelaksaannya
3. KOMPONEN – KOMPONEN DALAM SISTEM CONTROLLING
Komponen – komponen pengawasan terdiri dari ;
a. Alat pengamatan, contoh : Obsever, detector, sensor, dan lain-lain
b. Alat untuk menilai hasil , contoh : Evaluator, selector
c. Alat modifikasi tingkah laku / prilaku
d. Alat informasi
Mekanisme komponen dalam sistem pengawasan / pengendalian :
Alat – alat Pengendalian Bahan Perbandingan
Informasi yang terjadi komunikasi pengubah Tingkah laku
Kesatuan yang dikendalikan ?
4. PELAKU ATAU PELAKSANA PENGAWASAN DAN PENGENDALIAN :
Pengawasan dan Pengendalian dilakuakan oleh :
a. Pihak manajemen pada masing – masing fungsi organisasi.
b. Pihak luar manajemen ( Auditor )
5. PROSES CONTROLLING
Langkah – langkah dalam melakuan Controlling adalah ;
a. Penetapan Standart
b. Penetuan pengukuran
c. Pelaksanaan pengukuran
d. Pembandingan pelaksanaan dengan standart
e. Pengambilan keputusan / tindakan koreksi
6. ALAT – ALAT DASAR CONTROLLING :
Alat alat dasar yang digunakan dalam controlling terdiri dari :
a. Standart
b. Target
c. Anggaran
d. Performance
7. TAHAPAN PELAKSANAAN
Tahap – tahap pelaksanaan dalam proses controlling, meliputi :
a. Planing Action
b. Exentusi Action
c. Evaluation Action
8. TIPE – TIPE CONRTOLLING
Tipe – tipe controlling yang dilakukan dalam suatu organisasi terdiri dari :
a. Feedward Control
b. Concuser control
c. Feedback Control
9. FAKTOR – FAKTOR YANG DICONTROL
Yaitu semua aspek / factor yang terdapat dalam suatu organisasi yang disebut dengan fungsi – fungsi organisasi, yang meliputi :
a. produksi
b. Sistem
c. Pemasaran
d. Sumber daya manusia
e. Anggaran
f. Dan lain – lain
10. UKURAN EFEKTIFITAS
Ukuran efektifitas controlling, adalah
a. pengawasan kegiatan yang benar.
b. Tepat waktu
c. Biaya efisien dan efektif
d. Tepat dan akurat
e. Dapat diterima yang bersangkutan
11. CARA / TEKNIK PELAKSANAAN
Cara untuk melakukan controlling, meliputi :
a. Membandingkan antara pelaksanaan dengan rencana dalam suatu periode kegiatan.
b. Membandingkan antara pelaksanaan periode sekarang dengan periode yang lalu.
c. Membandingkan antara organisasi yang satu dengan organisasi yang lainnya yang sejenis ( Branchmarking )
Rabu, 28 Januari 2009
ikhlas
“ KONSEKUENSI IKHLAS”
Ada sebuah keluarga petani. Mereka menetap disebuah kerajaan besar yang rajanya adil dan bijaksana. Tanah negeri itu subur dan keadaannyapun aman, hidup berdampingan dengan damai tanpa mengenal perang ataupun bencana. Setiap pagi keluarga petani itu pergi kesawah, tak lupa membawa bajak dan menuntun kerbaunya, bajak tua dan kerbau renta. Sisi –sisi kayu dan garu bajak telah mengelupas, keerbaunya tampak letih sebentar – bentar berhenti menghela bajak, “ inilah hartaku yang paling berharga” bisik petani itu dalam hati. Tiba – tiba gemuruh suara derap kuda memecah kekhusukan kerjanya. Segerombolan pasukan kerajaan dating, komandannya mendekati lalu berkata “ serahkan bajak dan kerbaumu itu kepada kami. Ini perintah raja!”. Si petani kaget, bukan oleh suara keras dan tegas yang dimiliki oleh tentara itu tapi pada isi perintah itu.
“ untuk apa raja menginginkan bajak dan kerbauku ?” Tanya petani bingung. Hanya ini hartaku yang paling berharga. Bagaimana aku bisa bekerja tanpa bajak dan kerbau itu? Tolonglah kasihani anak dan istriku,”. “ kami hanya menjalankan perintah. Terserah , apakah kamu menyerahkan atau tidak, tapi ingat kekuasaan dan kekuatan baginda raja tidak akan mampu dilawan oleh petani macam kau” kata komandan itu tanpa muatan emosi. Petani itu bingung dan cemas dan bertanya – Tanya dalam hati, apakah raja telah kehilangan sikap bijaknya? Tampaknya baginda sudah tidak melindungi rakyatnya lagi. Akhirnya petani itu sampai pada sebuah kesimpulan dan keputusan : tak ada yang bisa berbuat kecuali pasrah dan menyerah kepada kehendak raja.“ baiklah kalau itu memang kehendak raja, saya akan mengantarkannya kepada raja” kata petani dengan tenang. Bala tentara itu pergi meninggalkan petani itu.
Setelah beberapa saat petani itu memanggul bajak dan menuntun kerbaunya kearah istana, ia ingin menyerahkan langsung harta paling berharganya itu kepada raja. “ baginda walau terasa berat hamba harus membaktikan diri kepada baginda. Karena itu terimalah bajak dan kerbau ini, yang mulia..,” ujar petani dengan suara diusahakan tanpa getaran sedih karena kehilangan harta kesayangannya.
Raja tersenyum, menepuk tangan, memanggil pengawal. “ buka selubung itu,” raja memberi perintah selubung dekat taman terkuak. Ada bajak baru dan seekor kerbau gemuk disana. Sang petani bingung, kalau sudah punya bajak dan kerbau sebagus itu, kenapa raja masih menginginkan bajak dan kerbauku, batin sipetani itu. Tampaknya sang raja dapat membaca raut kebingungan petani itu. “ sesungguhnya aku sudah mengenal dirimu sejak lama, aku tahu kamu petani yang rajin. Namun aku ingin tahu apakah kamu juga hamba yang baik? Ternyata kau rela memberikan harta paling berharga milikmu kepadaku. Maka terimalah bajak dan kerbau itu sebagai hadiah dariku, kau layak menerimanya….” Kata baginada raja. Petani mengucapkan terima kasih, ia pulang dengan langkah riang sambil memanggul bajak baru yang mengkilat dan kerbau yang gemuk hadiah dari raja.
Saudara, tidak banyak yang berlaku seperti petani tadi, mau memberikan harta terbaik yang dipunyai kepada orang lain. Alloh swt meminta kita memberikan harta kita bukan karena Alloh swt butuh apalagi kekurangan, sesungguhnya Alloh maha kaya. Ia melakukan itu karena ingin menguji hamba-Nya, siapa diantara kita yang benar – benar beriman, mengabdi, dan bersyukur kepada-Nya. Alloh swt ingin menyisihkan orang – orang kikir dari hamba – hamba-Nya yang mau menafkahkan harta dijalan-Nya. Dan diatas sikap pasrah kita akan kehendak-Nya, Alloh swt akan memberi balasan yang tidak kita bayangkan sebelumnya. Begitulah cara-Nya memberi kemuliaan kepada kita. Semoga Alloh swt selalu menjaga kita dari kekikiran dan rasa kurang ikhlas dalam menafkahkan harta kita dijalan-Nya, amien!
